Cari Tahu Jika Sahabatmu Soulmate Sejati Atau … ?

Cari Tahu Jika Sahabatmu Soulmate Sejati Atau … ?

Hidup tanpa sahabat rasanya pasti garing-garing kriuk. Iya, nggak, Sobat? Orang lain sibuk berkumpul, curhat, atau sekadar ketawa ketiwi dengan sahabat mereka sementara kita cuma bisa bengong. Sendirian. Ngenes pastinya.

Eits. Tetapi, apa benar orang-orang yang terlihat banyak sahabat itu benar-benar sudah sejiwa, sehati, dan satu rasa alias soulmate? Mau tahu caranya mengecek apakah sahabat kita adalah soulmate sejati?

Pertama. Ketika kita kesusahan. Siapakah yang pertama kali mendeteksinya lalu datang menawarkan bantuan? Atau minimal menyatakan rasa simpati. Bukan mencecar kita dengan pertanyaan-pertanyaan semacam interogasi penyidik pada seorang tersangka pelaku kriminal. Mereka selalu jadi orang pertama yang mengulurkan tangankah atau tidak? Sesibuk apapun aktivitas hariannya. Ingat, ya? Bantuan tak selalu berupa uang, loh. Bisa sekadar mendengarkan curhatan kita dengan penuh perhatian, itu juga sudah termasuk bantuan.

Kedua. Saat dimintai nasihat, ke arah manakah mereka akan mengajak kita? Berpikir positif atau negatif? Mengendalikan emosi atau justru membakarnya agar menjadi lebih “hot”? Mengajak muhasabah dan introspeksi diri ataukah mengajak untuk menyalahkan takdir atas apa yang menimpa kita hari ini?

Ketiga. Obrolan apa saja yang sering dibicarakan dengan kita? Apakah hal-hal negatif, atau positif? Merumpikan orang lain atau mengambil hikmah dengan bijak dari suatu permasalahan orang lain? Ingat ya, Sobat. Ada perbedaan antara gibah dengan memetik hikmah dari pengalaman orang lain.

Keempat. Saling menyemangatikah, atau mereka hanya sibuk membicarakan kehidupannya saja? Bersikap baik hanya ketika kita merespon, ataukah selalu bersikap baik meski seburuk apapun perlakuan kita pada mereka? Bersikap ramah hanya ketika sedang butuh sesuatu atau selalu ramah setiap saat?

Kelima. Apakah mereka tipikal “api”? Yang senang membesar-besarkan masalah? Yang semula hanya persoalan sepele tapi saat di tangan mereka menjadi permasalahan yang luar biasa menggelegar dan menghebohkan? Ataukah tipe “air” yang selalu berupaya meredam gejolak dalam dada kita? Atau tipe “angin”? Hari ini A, besok B, besoknya lagi C, dan seterusnya. Berubah-ubah terus pendapatnya. Plin plan.

Keenam. Apakah orang yang kita anggap sahabat memiliki “dua wajah”? Di saat bersama kita, mereka bicara yang baik-baik, tetapi di belakang atau saat tak bersama mereka, kita dijelek-jelekkan di hadapan orang lain. Nah, loh. Mau tahu cara mengetahuinya? Salah satunya dengan memblokir akun medsos mereka dan stalking diam-diam, terutama di saat kita sedang berseteru dengan mereka. Tetapi jangan memakai rasa sampai terbawa baper, ya? Bisa juga ngobrol dengan sahabatnya sahabat kita. Cari tahu dengan cara halus, tanpa mencurigakan.

Ketujuh. Ajak mereka menjadi partner kerja dan amati cara bekerjanya. Lihat bagaimana mereka meng-handle setiap pekerjaan. Diselesaikan dengan profesionalkah? Banyak meminta pemakluman bila target tak terpenuhi? Atau bahkan asal-asalan menyelesaikannya. Menganggap enteng semua pekerjaan ataukah selalu serius menghadapi pekerjaan?

Bagaimana, Sobat? Sudah adakah orang yang pantas masuk dalam kriteria soulmate atau belum menemukan meski sudah berteman selama puluhan tahun? Jika sudah menemukannya, maka syukurilah. Sebab tak semua orang bisa menemukan “soulmate-nya”.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah …. Apakah kita “juga” sudah menjadi soulmate bagi sahabat-sahabat kita?

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

One comment