C-19 EVERYWHERE part 1

Berita mengenai covid 19 terus merebak. Masyarakat yang awalnya mulai santai bagai dikejutkan kembali dengan meningkatnya jumlah penderita. Bahkan rumah sakit banyak yang sudah tak mampu lagi menampung pasien.

Begitu pula dengan di kampung Sarah. Pada pandemi gelombang pertama, tak banyak warga yang terkonfirmasi positif C-19. Status kampung masih berada di zona hijau.

Namun sungguh berbeda dengan gelombang kedua ini. Walau masih dikategorikan zona hijau tapi sepertinya makin dekat saja tetangga yang terkonfirmasi positif C-19. Tidak bisa tidak, protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat.

Sudahh beberapa bulan ini, Sarah melihat banyak orang di jalan berkegiatan tanpa memakai masker. Ada pula yang beralasan tak percaya kalau covid itu nyata. Bebas saja sih berpendapat seperti itu tapi kok ya, rasanya jadi membahayakan orang lain yang ada di sekitarnya.

“Lho Mba, kok tidak pakai masker?” tanya Sarah pada mba Hana.

“Malas ah, pakai masker malah jadi susah bernapas. Napas jadi kurang lega. Bukannya sehat malah sakit kekurangan oksigen nanti,” ujar mba Hana memberikan alasannya.

Sarah hanya dapat tersenyum dan mendoakan agar mba Tuti sehat selalu dan terhindar dari C-19. Bayangkan jika dia sakit, berapa banyak orang disekitarnya yang beresiko tertular dari mba Hana. Sungguh Sarah berharap hal itu tidak pernah terjadi.

Malam ini, selesai azan Isya’, Sarah mendengar suara gaduh di luar rumah. Bergegas Sarah berjalan ke arah pintu ruang tamu. Tak lupa memasang telinga agar dapat tertangkap dengan jelas suara apakah itu.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie