Bungkusan dari Ayah

Bungkusan dari Ayah

Jika bisa memilih, aku ingin tinggal di pondok saja. Menghabiskan masa Ramadhan dengan khusuk. Namun suatu keharusan, menjelang ramadhan seluaruh santri dan santriwati harus pulang. Tentunya setelah setoran hafalan sebagai persiapan untuk mengisi kultum Ramadhan di kampung dari mana mereka berasal.

Mereka sangat antusias, berlomba-lomba menunjukkan penampilan terbaik. Tidak lain, supaya dianggap sebagai santri yang berbakat, calon ustadz masa depan. Sebuah alasan yang wajar. Namun, tidak bagiku. Kembali ke kampung artinya masuk kembali ke dalam sebuah penjara.

Dengan berat hati kulangkahkan kaki dan memberanikan diri mengetuk pintu rumah tua itu. Akh, bukan. Lebih tepat dikatakan sebagai sebuah gubuk.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalaam …, Sudah pulang, Don?” Itu suara ibuku. Tepatnya ibu tiriku. Ketiga adikku berhambur memeluk dan menyalamiku. Berebut gorengan yang kusempatkan beli di terminal tadi.
“Alhamdulillaah, Bu. Ibu sehat? Bapak mana?” Aku mencari sosok itu. Wajah ibu langsung murung. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Namun ia enggan bercerita. Kutatap ketiga adikku yang masih duduk di Sekolah Dasar.

“Ayah kawin lagi, Bang!” Dino menyeletuk sambil tertawa.
“Eh, tidak boleh begitu!” Aku menyeka ucapannya.
“Tanya saja Ibu. Dino juga tahu dari Bu Yati. Tetangga kita.” Tanpa diminta ia menjelaskan.
Ibu hanya terdiam, pergi meninggalkan kami. Sejenak ia kembali dan memberikan sepucuk surat.

“Ayah berpesan, supaya suratnya kau baca ketika kau sampai. Bahkan Ibu sama sekali belum membuka dan tidak tahu apa isinya.” Ibu menjelaskan dengan wajah sedih. Tidak ada lagi senyum di wajahnya. Yang ada hanya gurat sedih dan wajah murung. Akh, aku sungguh tidak tega. Ia sudah rela merawat dan mengasuh kami, menjadi inang pengganti semenjak kepergian Ibu kandungku. Kurang baik apa dia?

Kubaca dengan seksama tulisan Ayah. Ternyata benar. Ia memutuskan untuk menikahi seorang janda, anak juragan Marko yang terkenal kaya raya itu. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Kapan ayah akan menyadari kesalahannya?

“Wah, anak pesantren sudah balik toh? Yang sabar ya, Nak, ayahmu itu lho, tidak bisa dibilangi. Kurang baik apa coba Ibumu itu!” Bu Yati menegur dan menjelaskan kepadaku perihal sikap ayah. Kubalas dengan senyum, seolah aku sudah tahu semuanya, dan tidak mengharap ia menjelaskan semua itu.

“Biasalah Wak, puber ketiga ….” Dalam hati aku mengutuk perbuatan ayah. Teganya ia.!

Kuambil sepeda butut peninggalan kakek dahulu. Sebuah sepeda tua warisan kakek yang masih bertahan. Entahlah. Kenapa Ayah tidak tega menjualnya. Kukayuh pelan menuju rumah yang disebut Dino.

Sore itu adalah masa Megang. Di mana semua masyarakat bersiap menyambut Ramadhan dengan menu terbaiknya. Wajah setiap warga terlihat gembira dan antusias. Ada juga beberapa dari mereka yang terlihat berangkat menuju pemakaman kampung. Menziarahi kubur para kerabat.

Sampai di tempat yang dituju, aku disuguhkan dengan pemandangan yang asing. Sebuah rumah mewah dengan kerumunan masyarakat di halamannya. Pakaian mereka serba hitam. Ada apa gerangan?

Dengan penuh penasaran, aku menyeruak di antara para pengunjung. Aku tergugu melihat sosok yang terbaring di tengah mereka. Dengan balutan kain panjang dan selendang menutup kepala. Jenazah itu, ayahku?

“Ayaah …!”
“Jangan kau tangisi, anak kecil. Ini pilihannya!”
Aku tak menghiraukan omongan juragan tua itu. Kugincang jasad itu. Seolah ia masih ada. Hanya tertidur sesaat.
“Ayaah …! Ini Doni. Bangun, Ayah!

Dua orang penjaga rumah itu mencengkram kedua tanganku. Membawa paksa ke luar rumah itu. Aku tak berdaya. Sebuah kotak besar mereka lemparkan ke arahku.
“Ambil ini! Itu upah atas kerjasama Ayahmu! Hahaha”
Mereka pergi meninggalkan ku i pinggir jalan.

Kuraih sepedaku. Kukayuh cepat menuju kampung. Tak sabar ingin menceritakan semua yang kulihat kepada Ibu. Ibu hanya menangis terisak demi mendengar semua penjelasanku. Aku yang tak begitu paham akan semua ini hanya terduduk. Bingung, tak tahu apa yang harus kuperbuat.

“Doni, pergilah ke Masjid. Berikan kotak ini kepada Pak Ustadz. Jangan lupa, minta tolong supaya ayah kalian didoakan.” Sore itu juga aku berangkat menuju rumah Pak Ustadz, tepat di sebelah masjid kampung kami.

“Selepas sholat tarawih dan witir nanti akan ada takziah di masjid, Bu. Begitu kata Pak Ustadz. Dan Pak Ustadz memberikan ini. Kata beliau untuk kita megang.”
Ibu membuka bungkusan itu. Sepuluh porsi nasi rendang lengkap dengan sayur dan buahnya.
Acara takziah kami lalui dengan husyu. Memohon supaya Allah mengampunkan segala dosa dan kesalahan Ayah, Sehingga beliau tenang walau harus meninggal dengan mengorbankan dirinya, demi kami, anak-anaknya.

Dua minggu sudah Ramadhan. Rumah gubuk itu kini telah berganti dengan rumah yang permanen. Kehidupan kami berubah menjadi cukup layak. Harapan yang selama ini kami selalu sematkan dalam setiap sujud kami. Tapi semuanya itu tidak ada gunanya, ketika sosok Ayah yang telah rela mengorbankan dirinya demi kami, tidak membersamai kami lagi. Surgalah tempatmu, Ayah.


Nubar ulisBareng/MaySilla