Buku Terakhir untukmu, Losa

Bagian I

Pagi ini nampak cerah, Langit tanpa mendung dan awan berarak arak seperti kapas bersih yang menggantung di langit biru.

Setiap di Minggu pertama pagi hari, para pelajar yayasan tuna netra “Harapan Bangsa” selalu mengadakan acara mendengar dan membaca

” Assalamualaikum cantik, wah Losa, pagi ini kamu tampak lebih cerah, cantik warna kerudungmu yg pink, baru ya…”

“Ah, kak Mira bisa aja, jangan digangguin dong kak, malu…”

” Alhamdulillah, kemarin Tantenya Losa datang menjenguk dan bawakan oleh oleh dari Jakarta”

“Beneran lho, cakep banget, cocok dengan gamis yang dipakai… Emmh, btw hari ini mau dibacakan apa?”

” Lisa pengen dengar puisi kak Mira kemarin, kakak kan sudah janji mau bacakan buat losa.”

” Okey deh buat adik tersayang, kakak akan bacakan”

“Makasih kakak…”

Serta Merta wajah losa menjadi sumringah, senyum remaja itu ikhlas meneduhkan.

Losa sudah berada di yayasan panti tuna netra sejak 10th yang lalu, sejak ia berusia 8 tahun. saat itu ia mengalami kecelakaan bersama kedua orangtuanya hingga merenggut nyawa umi dan abinya, serta mengambil paksa penglihatannya, tinggallah dia seorang diri dengan kebutaannya.

Sebenarnya masih ada harapan losa untuk bisa melihat lagi jika ada donor mata yang mau menyumbangkan kornea matanya, itu jelas sangat sulit didapatkan dan sekaligus harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Losa Tumbuh menjadi remaja yang cerdas, selalu ingin tau. Mira sebagai ketua tim pembaca buku ditempat itu sering kali sampai kuwalahan meladeni semangat losa untuk dibacakan banyak buku, mulai dari buku sastra, buku staqofah Islam, siroh Nabawi, bahkan sampai buku buku yang membahas politik Islam. cerdas, jenius, Sholihah itu yang tertangkap dalam sosok losa.
.
.

Minggu pertama di bulan April, seperti biasa jadwal rutin acara baca membaca berlangsung, saat Mira membacakan kisah tentang wanita wanita hebat di jaman Rosulullah, tiba tiba terhenti.

“Assalamualaikum, kak Mirna..”

Sesosok pemuda tampan menghampiri dan mengucap salam pada Mirna. Sambil terperanjat Mirna menjawab salamnya.

“Waalaikum salam, MasyaAlloh.. dik Fabian..! Apakabarnya dik? Kapan datangnya? Kak Mirna sampai kangen banget, ditelpon gak pernah diangkat diwhatsap juga gak dibalas, sok sibuk deh.”

” Eh kak Mirna, orang muda itu memang sibuk, banyak urusannya, jiahhhh… Kemarin sore baru nyampai disurabaya, kak. Ini tadi barusan selesai ngikutin acara seminar di UNAIR, eh kak.. tuh siapa?”

“Eh iya, sampai lupa kenalkan ini losa, pelajar terpandai dipanti ini”

Losa yang sedari tadi terdiam menyimak, melemparkan senyumnya tanda menyambut perkenalan dengan fabian, meski tak bisa melihat keberadaan adik kak Mirna itu, losa berusaha mengarahkan pandangannya kearah Fabian, meski terasa dalam gelap senyuman losa terasa hangat.

Bersambung

LellyHapsari/Rumah Media