BUKU RAMADHAN

Banyak kenangan ramadhan di masa kecil yang sangat berkesan. Salah satunya adalah buku ramadhan. Bapak Ibu Guru sangat antusias memberikan buku ramadhan ini kepada siswa. Siswa pun menyambut dengan sukacita dan bersiap mengisinya dengan catatan terbaik yang akan dipersembahkan saat masuk sekolah setelah libur lebaran.

Saat itu sekolah lebih sering full libur pada saat ramadhan. Meski sesekali kebijakan libur saat ramadhan juga berubah. Ada yang digunakan sanlat -pesantren kilat-, ada juga yang digunakan belajar seperti biasa. Tidak jadi perdebatan atau ketidaknyamanan. Semua berjalan biasa saja, atau lebih tepatnya baik-baik saja.

Pengalaman masa kecilku di bulan ramadhan sangat sarat kegiatan. Tak begitu mengerti apakah motivasiku yang tinggi mengisi ramadhan itu dengan kegiatan positif demi mengisi buku ramadhan, atau dorongan orang tua atau bahkan dorongan suasana lingkungan masyarakat sekitarku saat itu. Yang jelas, aku menjalaninya dengan bersuka hati tanpa beban dan bahkan mengingatnya hingga kini sebagai memori manis yang sangat dirindukan bisa terulang.

Sejak bangun sahur, aku bersemangat. Lalu sholat subuh berjamaah dan disambung mendengarkan tausiah sejenak. Setelah itu dilanjutkan tadarus bersama masih di mesjid dibimbing pa ustad hingga pagi menjelang. Pulangnya main dulu jalan-jalan. Pernah saat itu jalan bersama teman teman menyusuri rel kereta api di belakang rumah hingga jauh. Begitu sampai kembali ke rumah langsung beres-beres atau membantu ibu. Sesekali aku menjalani hobi macam-macam, kadang membaca, menulis diari atau cerita, mencoba resep masakan dan hal menyenangkan lainnya. Jika ada waktu luang baru menonton acara televisi.

Hari-hari bisa berbeda dan lebih bermakna jika memang ada kegiatan sanlat atau kegiatan belajar di sekolah. Bedanya, jam sekolah lebih sedikit dan bisa diisi dengan santai banyak bermain. Seringkali bisa bawa mainan ke sekolah seperti ludo, ular tangga, monopoli, bola beklen, main karet, kartu kwartet dan berbagai jenis permainan lainnya. Alangkah lucu dan seru. No hape no sibuk sendiri. Semua permainan selalu bernilai keterlibatan dalam suatu kelompok.

Setelah dzuhur pulang sekolah mungkin masih main sama teman atau tertidur di siang hari. Tapi setelah ashar aku meluangkan waktu di mesjid lagi, mengaji lagi bahkan hingga buka puasa di mesjid. Lalu makan di rumah dan kembali ke mesjid untuk sholat tarawih. Jam 9 malam baru sampai rumah dan bersiap tidur. Sebelum tidur, tak lupa mengisi buku ramadhan dengan lengkap yaitu menceklis sholat lima waktu dan sholat tarawih. Menulis ceramah ustad hari itu dan menulis pula berapa ayat quran yang kubaca hari itu. Yang pasti, tak ada bagian yang menuliskan aku main hape dari jam berapa hingga jam berapa, hehe …ternyata hidup aman nyaman saja waktu itu tanpa hape.

Sebulan penuh buku ramadhanku terisi. Tulisan isi ceramah  yang rapi kubuat kadang dicontek teman, hehe …. Aku senang saat menyerahkan tugas buku ramadhan ini. Aku merasa sukses. Dan jujur, kini aku merenunginya inilah yang dianalogikan pendidikan karakter di masa kini. Karakter jujur, tertib, bertanggung jawab, komitmen, rapi, disiplin, tekun dan banyak karakter lainnya. Sederhana dan mudah karena didukung oleh lingkungan yang serentak bersama terfokus pada tujuan yang sama. Sekolah, orang tua dan masyarakat merespon buku ramadhan dengan dukungan penuh pada anak anak. Waktu itu orang tua dan pa ustad tahu anak anak mendapat tugas itu dan mereka setuju untuk mencantumkan tanda tangan sebagai saksi atas kegiatan yang dilakukan anak-anak.

Entah memang zaman sudah berubah, kebijakan yang kurang ngeh, atau apapun entah. Kini, seberapa bernilai buku ramadhan ini dipersiapkan insan insan pendidikan saat akan memasuki bulan ramadhan? Jika kini masih ada tugas mengisi buku ramadhan, seberapa sungguh-sungguh siswa siswi mengisinya? Apakah masih teruji nilai kejujuran dalam mengisinya? Ataukah memang mereka bingung kegiatan apa yang harus mereka tuliskan karena jeratan hape yang “memenjarakan” mereka setiap saat setiap waktu?

Yang pasti, ada ataupun tidak buku ramadhan, mari tetap menjadi bapak ibu guru yang memberikan semangat menyambut ramadhan kepada siswa siswinya yang muslim. Mari tetap menjadikan momen ramadhan sebagai hari hari dengan semangat penuh untuk mengisinya dengan hal hal positif. Mari berdoa dan beramal yang terbaik demi kualitas kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Marhaban ya Ramadhan.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Mohon maaf lahir dan batin 🙏

‘nNa04042022