Buku Ensiklopedia versi Mana yang Sobat Punya?

Buku Ensiklopedia versi Mana yang Sobat Punya?

Desain by canva

Assalamualaikum sobat web nulis bareng rumedia, semoga semuanya dalam keadaan sehat dan bahagia ya, aamiin.

Dua bulan lamanya kita sudah berkegiatan lebih banyak di rumah, pasti sudah banyak rasa yang timbul karenanya. Begitu pun bagi keluarga kecil kami. Di kala rasa bosan itu datang, kami akan mulai ngobrol sambil membaca. Itulah mengapa saya ingin menuliskan obrolan kami hari ini di sini. Mau tahu bagaimana obrolan seru kami? Simak di sini terus ya, sobat.

Si sulung yang sekarang berusia 6 tahun, baru saja bisa menemukan, bagaimana cara membaca yang mengasyikan. Jadilah, rasa ingin tahunya tinggi sekali. Tulisan apa saja dia baca dan kalau ada yang ingin dia ketahui lebih jauh, dia akan bertanya.

Jujur, kami, saya dan suami menganut sistem pembelajaran yang tidak mengharuskan anak-anak bisa calistung sejak dini. Kami lebih menikmati setiap proses pengenalan mereka dengan huruf dan angka secara natural dan alami. Oleh karena itu, dalam mengajarkan si sulung membaca pun kami tidak mengeja ‘ini ibu budi’, tapi kami kenalkan dengan buku bacaan dan kami bacakan sambil tangannya mengikuti setiap huruf dan kata yang kami baca.

Semua berproses, hingga akhirnya si sulung bisa merangkai huruf demi huruf menjadi kata-kata. Dia pun menikmati proses belajarnya. Makanya hari ini, dia pun menanyakan hal-hal baru kepada ayahnya. Dia habis nonton Upin dan Ipin, di ceritanya itu Abang Saleh sedang menyiapkan hantaran untuk acara pernikahan. Kemudian, ada 1 barang hantaran yang kurang, yaitu daun sirih. Nah, tentang adat istiadat pernikahan di Upin dan Ipin itulah yang si sulung tanyakan ke ayahnya, “Yah, di Indonesia ada daun sirih?” tanya si sulung.

“Ada,” jawab ayahnya. “Emang kalau mau menikah harus pakai daun sirih, Yah?” tanyanya lagi. “Enggaklah kan, itu adat istiadat yang ada di Malaysia. Kalau di Indonesia beda lagi,” jawab ayahnya.

Pertanyaan itu berakar dan beranak pinak, sebab si sulung belum tahu apa itu adat istiadat, kenapa bisa punya kebiasaan seperti itu, dan lain sebagainya. Akhirnya ayahnya anak-anak pun mengatakan, “Coba deh, besok kalau sudah lebih aman, kita cari buku RPUL.”

Saya mendengarkan percakapan mereka sambil lalu, karena disambi nyuci piring dan mengisi air yang kosong setelah berbuka tadi, ikutan nyeletuk, “Buku RPUL tuh, apa, Yah?” “Masa Bunda, enggak tahu buku RPUL?” tanya ayah.

“Enggak, Bunda enggak tahu,” jawab saya. “Itu loh, buku ensiklopedia. Dulu waktu zaman Ayah SD, buku ensiklopedia masih mahal, jadi yang punya cuma anak orang kaya saja. Nah, buat anak-anak yang sekolah di SD Negeri, ensiklopedianya ya itu, RPUL,” jelas suami saya.

Saya masih enggak ada gambaran sama sekali apa itu RPUL, sebab zaman saya SD buku ensiklopedia atau ringkasan materinya bukan itu namanya.

“Emang RPUL, apa kepanjangannya? tanya saya lagi. “Duh, apa ya, pokoknya itu buku rangkuman semua materi pelajaran. Ada IPA sama IPSnya. Waktu SD ikut lomba cerdas cermat, Ayah belajarnya cuma pakai RPUL itu sama RPAL,” terang suami.

“Kayaknya namanya bukan itu deh, Yah. Zamanku SD, bunda enggak ngerasa pernah baca buku paket dengan judul itu,” kilah saya. “Ya udah, coba cari di google,” suruh Ayah.

Akhirnya saya pun mencari di google. Ternyata RPUL itu singkatan dari Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap. Sementara RPAL adalah singkatan dari Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap. Setelah mengetahui kepanjangan dan melihat sampul dan tulisannya, saya semakin yakin kalau zaman saya SD enggak ada buku cetak seperti itu. Saya ada buku rangkuman sama buku ensiklopedia tapi bukan itu namanya.

Saya coba cari di google, singkatan bagi rangkuman di zaman saya SD, dan saya ketemu. Singkatan itu adalah Rapel (Rangkuman Pelajaran Lengkap). Saya dan ayahnya anak-anak memang terpaut jarak usia yang agak jauh, jadilah saat di sudah SMA, saya baru SD. Jadilah wajar jika beberapa istilah yang kami tahu suka berbeda. Tapi di situlah asyik, seru, dan lucunya.

Asyik dan seru, karena saya dan suami mempunyai tambahan informasi serta pengetahuan baru. Sementara lucunya, bisa buat ajang ceng-cengan atau menggoda atau menyindir satu sama lain. Ada kalanya suami yang menggoda, karena saya masih bocah ingusan di kala dia sudah banyak bereksplorasi dunia. Di lain waktu, gantian saya yang menggoda, kalau dia sudah zaman old, sementara saya masih agak kekinian.

Design by canva

Itulah keseruan obrolan kami. Walaupun saat ini kami tidak boleh ke mana-mana, kami tetap bisa menjelajah ke mana-mana dengan buku. Bahkan menembus ruang dan waktu. Iya, dengan membaca kami bisa tetap seru-seruan dan berimajinasi.

Itulah kisah dan obrolan sederhana nan seru versi kami di kala pandemi covid-19, mengharuskan kami beraktivitas lebih banyak di rumah. Nah, kalau sobat apa ih, keseruannya? Yuk, dibagiin saja ke banyak orang, siapa tahu malah bisa menginspirasi. Berminat? Ayo, merapat.

Design by ibis paint