BUKAN SALAH COVID-19

Menunggu, adalah hal yang paling membosankan. Apalagi menunggu sampai 30 menit kebayang gak? Eittt tapi itu dulu. Sekarang waktu menunggu tidak lagi membosankan, kita bisa mengisinya dengan “tadarus” membaca Al-Quran atau melakukan hal lainnya. Karena ini Bulan Ramadhan, bulan dilipatgandakan pahala kebaikan. So jangan sia-siakan waktu, ya! ntar nyesel lho.

Kembali ke topik menunggu. Ini kuliah subuh pertama di hari Ramdhan. kami sudah berencana akan melaksanakan kegiatan kuliah subuh ini di mushola, alternatif lain adalah di rumah ku. Walaupun covid-19 berkeliaran mencari mangsa, dan pemerintah menganjurkan untuk beribadah dari rumah.

Keputusan ini diambil dalam musyawarah emak-emak di ruang sidang Ummi pemilik café mini di komplek. Para emak-emak yang mayoritas istri polisi, memintaku agar kegiatan pengajian tetap dilangsungkan. Mengingat, anak-anak mereka malah sama sekali tidak mengaji saat berada di rumah. Pertimbangan lain adalah anak-anak stay at komplek. Tidak kemana-mana. Dan yang bertemu hanya itu-itu saja, tidak ada pengunjung atau tidak melakukan kunjungan ke luar komplek. Kalau diibaratkan, komplek itu sudah seperti rumah. Orang-orangnya terbatas dan hanya itu-itu saja, jadi kalau dipikir secara sepintas komplek termasuk zona aman. Dan memang aman. Radius 1 kabupaten, kecamatan kami berada di zona aman.

Akhirnya aku pun menerima, dengan syarat ada izin dari para suami mereka. Eeehhh jangan salah sangka dulu, kan suami-suami nya ada yang sebagai RT, Ketua Pengurus Mushola dan para polisi. Nah jika dari pemangku kebijakan ini sudah mengizinkan maka akupun terima.

Hari kedua mushola masih kosong.

“Bunda, maaf kemarin tidak ngaji, soal nya tertidur” kata Sani
“Aku kesini, Bunda, tapi karena gak ada siapa-siapa jadi aku balik lagi!” jelas Tia

Oh ya, sekadar informasi tambahan, anak-anak di komplek memanggilku Bunda, untuk lebih mengakrabkan antara guru dan murid sich, atau juga karena anakku teman bermain mereka, jadi mereka memanggilku seperti anakku. Eh para orang tua juga sama, memanggilku Bunda, kalau itu mungkin karena saya penghuni paling tua di sini. he he he.

“Ya, gak pa2. Bunda juga mengerti, kalian masih adaptasi dengan situasi harus bangun pagi!” jawabku.

“Mana yang lain? Cuma kalian berdua? Gak nyamper teman-temannya?”
“Udah Bun. Kalau Sasa lamaaaaaa … gak ada jawaban! ya udah tak tinggal aja” jelas Sani.

“Kalau Ratu, kata ayahnya tidak boleh?” Kata Tia.

“Lho kenapa tidak boleh?” tanyaku.

“Gak tahu Bun, waktu diajak shalat teraweh tadi malam juga, ayahnya melarang! Lagi wabah, harus stay at home. Katanya gak boleh keluar.”

“Oh, gitu. Ya sudah. Tak apa-apa. Nanti yang lain kasih tahu ya. Yuk! Kita mulai pengajiannya!”

Pengajian tak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam. Sampai rumah, aku terus berpikir. Tentang Ratu. Siang tadi aku melihat dia bermain dengan Sani dan Tia. Kadang mereka yang bermain di rumah Ratu, atau Ratu yang bermain ke rumah yang lain. Mereka juga nampak berkumpul di depan rumah atau di taman komplek. Tapi mengapa saat di ajak tarawih atau kuliah subuh ayahnya melarang? Dengan alasan covid-19?

Secara salat tarawih di mushola, hanya beberapa orang dan hanya itu-itu saja. Apalagi kuliah subuh lebih terbatas lagi. Teman-teman mengajinya ya sama dengan teman mainnya. Hanya 4 orang. Teman main sehari-hari di komplek.  

Ada apa ini?

Apa yang salah?

Ah, aku tidak mau berpikir buruk.

Yang jelas wabah ini tidak semata-mata datang kecuali agar manusia berpikir. Dibalik keburukan pasti ada hikmahnya. Merperbaiki pola pikir dan memperbaiki hati.
Mungkin harus ada konferensi emak-emak lagi untuk menyatukan persepsi. Dan sepakat menghadapi pandemi covid-19 ini dengan meningkatkan keimanan dan imunitas diri.

Yakinlah Allah yang memberi wabah, Allah pula yang membuatnya musnah. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa.
Semoga wabah ini segera berlalu dan semoga kita bisa mengisi Ramdhan ini dengan sempurna. Dan Allah menjadikan kita kepada golongan orang-orang yang bertakwa.