Bukan Perkara Amal

Bukan Perkara Amal

Hidup adalah mengumpulkan sebanyak-banyak bekal untuk nanti, masa kekal yang telah menanti. Lantas berbuat baik menjadi jalan tentunya selain beribadah kan?

Lalu perbuatan baik seperti apa yang mesti dilakukan? Pastinya yang ikhlas dan tuluslah yang akan menjadi amal.

Bagaimana agar ikhlas dan tulus bisa dijalankan? Kebanyakan ikhlas di mulut, hati masih terasa berat. Apakah hal seperti itu akan menjadi catatan sebuah keikhlasan ataukah perbuatan baik itu hanya tercatat di pikiran manusia dan terlewat atas catatan malaikat?
Wallahualam.

Teringat pengalamanku sewaktu berlibur di akhir pekan bersama keluarga. Seperti biasa, aku dan keluarga tak pernah neko-neko dalam berpakaian. Rapi, bersih dan, sesuai momen cukuplah bagi kami.

Sandal jepit merupakan pilihan favorit dan praktis. Untuk jalan di pantai agar tak takut kebasahan dan kotor. Pun saat hendak menunaikan segala hajat sampai melaksanakan shalat. Sandal jepit menjadi andalan untuk memberi kemudahan.

Masa itu, setelah suami selesai shalat. Kami bergantian menjaga anak-anak bermain. Lanjut dengan aku yang menuju mushala tak jauh dari pantai.

Usai berwudhu kusenderkan sandal jepit agar cepat kering di bawah terik matahari yang menyinari anakan tangga mushala. Berlanjut masuk ke dalam dan menunaikan kewajiban kepada Sang Khaliq.

Niat hati selesai shalat, sandal telah bersih dan kering. Pasti sangat nyaman digunakan lagi berjalan di atas pasir. Sayangnya ekpektasi tak sesuai kenyataan.

Sandal jepitku raib.

Tentu saja menjadi panik. Ke mana sandal kesayanganku? Sandal itu bukan barang mahal memang. Hanya seharga 15 ribu di toko sandal dekat pasar simpang, tempatku tinggal.

Tapi, bagaimana aku berjalan tanpa sandal? Lagi pula siapa yang tega mengambil sandal jepitku?

Mataku nanar mencari, melihat ke sekeliling dan terpautlah pandanganku pada sekumpulan wanita berpakaian mewah.

Ya, kusebut mewah karena pakaiannya jauh lebih berkelas dibandingkan pakaian sederhanaku. Di teras mushala juga berjejer beberapa pasang sandal dan sepatu apik nan mahal.

Ada sandal jepitku di antara kaki para wanita itu. Lantas salah satu dari mereka berkata, “Mbak mencari sandal jepit, ya?”

Aku mengangguk. Mungkin ia memperhatikan aku sedari tadi yang kebingungan mencari alas kaki tersebut.

“Sebentar ya, Mbak. Aku pinjam dulu,” ujar wanita berkerudung dan berkemeja biru malam.

Kulihat kakinya. Ya, ia yang mengenakan sandalku tanpa permisi. Aku pun tersenyum.

Setelah mereka selesai berwudhu dan masuk ke dalam mushala, sandal jepitku pun dikembalikan dengan ucapan terimakasih tentunya. Lagi-lagi aku tersenyum. Dalam hati sebenarnya gemas dan sedikit kesal di awal, karena meminjam barangku tanpa izin. Yah, walaupun itu benda murah bagi mereka bukan berarti tak ada yang punya dan menyayanginya, kan?

Seketika hatiku berdesir dan mengikhlaskannya. Bukankah untuk mendapat pahala kebaikan itu ada banyak caranya?

Sayangnya, di kala hatiku belajar mengikhlaskan. Bibirku telah tersenyum kepada mereka. Tiba-tiba ada sentakan seperti aliran listrik. Menyengat gendang telinga dan hatiku.

“Lumayan ya, Mbak, hitung-hitung jadi amal?” celoteh salah seorang dari mereka diiringi cekikikan yang tentu terdengar jelas di inderaku.

Blas.

Ikhlas itu rasanya menguar entah ke mana. Ini bukan perkara amal. Tapi, perkara etika akan sesuatu.

Aku meradang. Sungguh. Hingga sandal jepit itu kuabadikan dalam tulisan ini.

Percayalah kawan, semua orang pasti ingin mendapat pahala kebaikan. Hanya saja bukan dengan cara seperti itu.

Bagaimana rasanya jika barang-barang kesayanganmu ada yang menggunakan tanpa izin? Lantas mereka mengembalikannya dengan tanpa merasa bersalah lalu berkata, “hitung-hitung jadi amal, ya?” Atau bahkan tak kembali.

Ingat kasus perusahaan besar yang mengelola jasa untuk berangkat ke tanah suci? Bagaimana akhirnya perusahaan itu membuat para jamaahnya tak bisa berangkat karena kasus penipuan.

Lantas setelah semua proses diusut, para jamaah yang tak hanya berasal dari kalangan atas. Tapi, ada banyak yang mengumpulkan pundinya dengan penuh perjuangan mendapatkan kalimat, “ikhlaskan saja, hitung-hitung jadi amal. Bukankah niat baik pun sudah dicatat oleh malaikat?”

Oh, tidak!

Ini bukan hanya perkara amal dan ikhlas. Melainkan etika dan hak yang mesti ada.

Sudahkah kita menjadi insan yang penuh dengan etika baik? Ataukah telah menjadi bagian dari salah satu mereka yang telah meruntuhkan pondasi ikhlas seseorang?

Ikhlas itu dari hati dan hanya Dia yang tahu persis seberapa ikhlasnya kita. So, kawan semoga kita mampu menjadi ikhlas menerima segala ketentuannya. Walau sungguh berat dan karena hati kita tak seindah malaikat-Nya.

Salam hangat.

nubarnulisbareng/walidahariyani