BUAH HATI DIWIDUDA

oleh Ida Saidah
Kegiatan wisuda merupakan hal lazim dilaksanakan bagi para mahasiswa yang telas menyelesaikan studinya. Tapi bagiku wisuda buah hati begitu terasa sangat istimewa. Alhamdulillah puji syukur kepada Allah Swt. Di balik keterbatasan fisiknya, ia masih memiliki semangat.
Di usianya sedang semangat menggapai cita-cita dan cinta, tiba-tiba Allah berkehendak lain dengan keinginan hamba-Nya. Yang Pengasih menakdirkan sakit. Buah hatiku harus dirawat di rumah sakit. Tidak cukup sekali dua kali, tetapi terus-menerus. Dokter menyatakan bahwa hidupnya tergantung ke mesin hemodialisa atau boleh juga tranpalansi dengan prosedur yang komplek dan biaya yang banyak.
Rasa putus asa menyergap. Buah hati uring-uringan. Mudah tersinggung dan marah-marah tidak keruan. Termasuk tidak mau kuliah lagi. Ketika itu sudah masuk semester tujuh.
“Buat apa kuliah, ijazahnya tidak akan laku, orang sehat saja banyak yang menganggur, pokoknya aku tidak mau kuliah lagi, aku mau mati saja tidak usah dihemo, buat apa ngabisin waktu dan uang!” Ia berbicara tanpa jeda dengan nada tinggi. Sebagai seorang ibu pada saat itu hanya jadi pendengar yang baik, air mata disimpan jauh-jauh. Hati menjerit pada pemilik semua jiwa, bermohon buah hati dilimpahkan kesabaran dan dapat menerima takdir dengan ikhlas.
Setelah buah hati cukup tenang, aku baru berbicara dengan sangat hati-hati. Kusampaikan bahwa hidup dan mati itu tidak didasarkan pada keinginan, tetapi pada ketetapan sebagaimana firman Allah Swt.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Allah lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S Al-Mulk: 2)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan. (Q.S Al-Anbiya: 35)
Jadi, tidak ada alasan yang sakit untuk patah semangat. Mestinya, dalam kondisi sakit, kita harus tetap memiliki semangat untuk bangkit melakukan kebaikan, karena dengan sakit ini Allah akan memberi pahala yang berlimpah serta menghapus dosa-dosa. Putus asa adalah perbuatan dilarang. Lebih baik banyak beristigfar, membersihkan hati dan membangkitkan jiwa sehingga akan dapat menumbuhkan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)
Di luar ekspektasi, mendengar apa yang disampaikan olehku malah menjadi-jadi marahnya. Hingga terucap kalimat, “Ibu pendusta besar, mana Tuhan yang Penyayang itu, ini buktinya aku malah sakit begini. Diam, diam, ibu bisa tidak, ibu jangan ngomongin ayat!” Jika sudah kesal begini, yang timbul adalah sesak, nafas tersenggal-senggal, cepat-cepat kupasangkan selang oksigen.
Astagfirullahalazim. Kemudian berangsur membaik, aku berlari menjauh, mengadukan semuanya kepada pemilik cinta sejati. Aku menangis sejadi-jadinya. Kuperbaiki ibadahku. Berdoa dan terus berdoa di setiap kesempatan.
Detik jarum jam terus melaju, waktu bergulir. Hidup berdampingan dengan yang sakit dan pemarah harus dinikmati dengan sesabar-sabarnya. Pun seikhlas-ikhlasnya. Sebagai ibu terus berusaha menjadi pelayan yang yang baik. Harus menyediakan waktu sepenuhnya saat dibutuhkan untuk mengelus, memijat, dan mengantar ke rumah sakit. Belum keperluan lainnya yang terlalu banyak untuk diperinci.
Allah tidak tidak pernah tidur. Allah selalu mendengar doaku, jika tidak sekarang, esok, lusa, tahun depan, atau nanti. Itu keyakinanku.
رَبَّ النَّاسِ أَذهِبِ البَأسَ اشفِ أَنتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاوءُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Artinya: “Ya Allah Tuhannya manusia, hilangkanlah rasa sakit ini, sembuhkan lah, engkau dzat Yang Maha Menyembuhkan, tak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tak meninggalkan rasa sakit.”
Aku terus bermohon agar buah hatiku selain disehatkan dan disolehkan, serta bersemangat menamatkan kuliahnya. Dan benar sesuai janji-Nya, satu per satu doaku dikabulkan. Walau dengan tertatih-tatih dan dibantu banyak pihak: saudara, teman-teman, para dosen (pengajar, wali, dan pembimbing) dapat lulus kuliah. Terima kasih kepada semua yang telah menjadi jalan buah hatiku ikut diwisuda. Semoga menjadi motivasi untuk lebih soleh. Aamiin ya Robbal alamin.

Selasa, 13 Oktober 2020