BOLU KUKUS PEMERSATU KELUARGA

Setelah mengikuti kursus membuat bolu kukus, malam ini aku berusaha untuk mempraktekan resep. Memang banyak resep bolu kukus bersliweran tapi aku tertarik untuk mendapatkan ilmu dari chef nya langsung. Bahan-bahan sebenernya sudah tersedia semua di lemari hanya kurang satu, air soda.

Akhir setelah membeli air soda, aku mulai praktek. Jumlah takaran sesuai resep. Cara membuat pun mengikuti arahan di video tutorialnya. Harap-harap cemas ketika adonan sudah mulai masuk klakat.

Sambil menunggu waktu, aku mencuci peralatan yang kotor. Sepi, semua sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Ada yang belajar, ada yang masih bekerja, bahkan mamaku masih mengerjakan tugas.

Alarm berbunyi, menandakan waktu pengukusan sudah selesai. Sedikit mengintip dari kaca klakat. Wow! Mekar dan cantik. Terlihat motif zebranya.

Segera kumatikan api kompor dan mengangkat bolu kukus yang sudah matang. Kupindahkan ke box plastik untk penyimpanan. Dalam pemikiranku untuk sarapan besok pagi.

Tiba-tiba suamiku setengah berlari menuruni tangga. Anakku pun keluar kamar dengan tergesa.

“Sudah matang ya?” tanya mereka serempak.

“Kok tahu?” aku balik bertanya.

“Baunya Maaaa, hmm … wangiiii,” jawab anakku, Raisa, sambil bergaya seolah terbuai akan aromanya.

“Iya Ma, sampai ke atas tercium aromanya. Enak nih sepertinya,” jawab suamiku sambil matanya melirik ke meja makan.

“Boleh coba ya Ma?” tanya Raisa.

“Boleh, asal jangan dihabiskan! Soalnya belum Mama foto untuk setoran ke grup,” aku mewanti-wanti.

“Eyang, mau cobain gak? Bolu kukusnya sudah matang nih,” ujar Raisa menawari mamaku.

Aku segera beranjak ke dapur, membereskan peralatan, klakat dan loyang-loyang. Sambil merapihkan peralatan aku memikirkan bagaimana nanti pengaturan bolu-bolunya saat difoto.

Selesai semua rapi, aku aegera ke meja makan. Tentu saja ingin mencoba juga. Kata teman-teman yang sudah membuat rasanya enak dan dan lembut.

“What?!!” aku terkejut setengah mati. Terlihat bolu kukus sudah tinggal sedikit. Sementara Raisa dan suamiku hanya tersenyum-senyum merasa bersalah.

“Enak banget Ma, susah untuk berhentinya,” ujar Raisa dengan suara mendayu.

“Mama sih bikinnya aneka rasa, kan jadi penasaran mau coba semua,” ganti suamiku membela diri.

Aku tanya bisa geleng-geleng kepala. “Sudah cukup, besok pagi baru difoto, nunggu matahari dulu. Ya Ampuuuun, cuma segini gimana ceritanya,” kataku sambil menutup kotak plastik.

Semua bubar kembali ke kamarnya masing-masing. Aku masih duduk di kursi makan. Penasaran aku mengambil satu lalu memakannya. Benar saja, rasanya enak dan lembut. Pantas mereka susah menahan diri. Sepertinya bolu kukus ini layak mendapat nama ‘Bolu Kukus Pemersatu Keluarga” karena semua langsung bersatu di meja makan tanpa dipanggil lagi.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie