Blug Pageblug Sayur Lodeh

Pageblug adalah masa dimana banyak wabah penyakit menular. Bagi orang Jawa, untuk menghadapi Pageblug ini, ada beberapa adat yang biasa dilakukan. Di antaranya adalah membuat sayur tolak bala, yaitu sayur lodeh yang berisi 7 macam bahan sayuran di antaranya kacang panjang, daun melinjo, kulit melinjo atau daun so, terong, kluwih, waluh atau labu, tempe dan labu siam.

Akhir-akhir ini beredar di media massa, adanya perintah untuk membuat sayur tolak bala ini yang datang dari Sultan Hamengkubuwono IX. Meskipun kemudian setelah ditelusuri, ternyata berita itu adalah hoax. Namun masyarakat Jawa terutama Yogyakarta sudah banyak yang menindaklanjuti dengan membuat sayur tolak bala.

Sebagian warga Yogyakarta masih percaya dengan titah raja yang meminta rakyatnya untuk masak sayur lodeh itu untuk menolak bala dari masa penyebaran wabah penyakit. Kepercayaan ini sudah turun temurun bagi masyarakat Yogyakarta.

Bagi umat Islam, hendaklah menghadapi satu musibah dengan bersikap rasional dan tetap berlandaskan syariat Islam. Tak ada satupun musibah yang bisa selesai, tanpa kehendak dan kuasa dari Allah SWT. Islam sendiri menganggap bahwa setiap musibah yang diturunkan kepada umat manusia merupakan sebuah pembelajaran bagi manusia itu sendiri. Sebagaimana firman allah berikut :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِيْنَ

“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian.” (QS. Muhammad : 31)

Setiap orang tentunya memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Namun, islam menganjurkan untuk menghadapinya dengan sabar, tawakal dan penuh keikhlasan. 

Semua peristiwa datang dari dan diciptakan oleh Allah Swt.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid [57]: 22).

Artinya, sesuatu yang menimpa kehidupan umat manusia, terutama musibah hakikatnya telah Allah tentukan. Dan, karena itu harus disikapi dengan sabar dan lapang dada. Jangan ada ungkapan yang semakin menjerumuskan diri pada kehinaan dan kemurkaan Allah Swt.

Tentu saja, sikap yang harus diusahakan adalah sabar dan lapang dada. Sayyidina Ali berkata, “Jika engkau bersabar, takdir akan tetap berlaku bagimu, dan engkau akan mendapatkan pahala. Jika engkau berkeluh kesah, takdir juga akan tetap berlaku bagimu, dan engkau akan mendapatkan dosa.”

Lantas, apa yang harus kita lakukan saat mendapat musibah dalam kehidupan? Semisal musibah Corona yang sekarang lagi mewabah di penjuru dunia.

Pertama, Segera ambil tindakan disertai muhasabah. Kala diri ditimpa musibah, maka bersegeralah mengambil tindakan pengobatan baik dengan mendatangi tempat berobat maupun ahli pengobatan. Hal ini penting karena bagian dari syariat Islam, berikhtiar menemukan solusi. Setelah penanganan pengobatan usai dilakukan, barulah muhasabah. Bagaimana musibah itu bisa terjadi. Mungkin karena kurang tanggap dan waspada terhadap peringatan bencana. Atau karena terlalu sombongnya kita menghadapi musibah, makanya Allah membuat keadaan semakin parah. Dengan muhasabah inilah, ke depannya bisa lebih hati-hati, sehingga ikhtiar menghindari kejadian buruk bisa diupayakan sedini mungkin.

Kedua, Tetap Positif Thingking. Sekalipun musibah adalah hal yang dibenci oleh manusia, dalam Islam musibah tak semata nestapa, ia juga kemuliaan yang amat dibutuhkan setiap insan beriman.

“Apabila Allah menginginkan kebaikan-kebaikan hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah menghenndaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah dengan musibah apapun yang dialami. Rasulullah bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim).

Ketiga, Jangan mengeluh dan mencela Musibah. Sebagai insan beriman, kita dituntun oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menyikapi musibah secara bijaksana, yakni dengan memandang hal tersebut secara proporsional. Sebab, musibah kadang menjadi pilihan Allah untuk mempercepat penempaan diri menjadi insan kamil, sekalipun sudah pasti di dunia ini no body is perfect.

Akhirnya, adanya Pageblug hendaknya disikapi dengan tenang. Tetap gunakan cara yang rasional dan syar’i. Semua musibah dari Allah Swt. Kita hanya disuruh berikhtiar semampunya, sewajarnya dan tetap yang berhak menyelesaikan hanyalah Allah Swt.

Jadi, masih mau masak sayur tolak bala? Pikir-pikir lagilah…

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik