Bimbo Sang Raja Hutan

Bimbo Sang Raja Hutan

Bimbo sang gajah sedang berjalan-jalan di hutan dengan sombong. Ia menegakkan kepalanya, dan mengentakkan kaki sekeras mungkin ke tanah. Suara langkahnya membuat para penghuni hutan terkejut. Anak-anak tupai berlari masuk ke dalam lubang dan memeluk ibu mereka. Sementara para semut menghindar dan bersembunyi agar tidak terinjak.

“Ha … Siapa berani lawan aku? Aku Bimbo, gajah perkasa si raja hutan!” teriaknya.

Ia lalu menjulurkan belalai dan mengambil buah pisang yang masih tergantung di sebuah pohon. Lalu, dengan sigap gajah itu memakan semua tanpa menyisakan satu pun.

“Bimbo, dari kemarin aku sudah mengincar buah pisang ini. Seenaknya saja kau memakan semuanya!” Momo monyet protes. Ternyata sedari tadi ia berdiri di belakang gajah berwarna abu-abu itu.

“Panggil aku Yang Mulia. Akulah raja hutan sekarang!” pinta Bimbo.

“Raja hutan? Bahkan Loreng saja tidak seangkuh dirimu. Padahal seluruh dunia telah mengakui kehebatannya. Dia yang pantas menjadi raja hutan.” Momo memprotes sambil berkacak pinggang.

“Kau … berani membantahku?” hardik Bimbo berang. Momo merasa gentar, ia takut diinjak oleh binatang bertubuh besar itu. Dengan secepat kilat si monyet kecil berlari meninggalkan Bimbo.

“Lihat, tidak ada yang berani melawanku!” Sang gajah lalu menuju sungai. Sesampai di sana, ia menceburkan diri dan memainkan air dengan belalainya. Bimbo lalu bertemu dengan pak Buaya. Perlahan namun pasti, pak Buaya berenang mendekati si gajah.

“Apa kau tidak takut padaku, wahai gajah?” tanya pak Buaya.

“Tidak. Aku raja hutan, seharusnya kau yang takut padaku,” sahut Bimbo.

“Hahaha …. Hai gajah, janganlah menjadi sombong. Hati-hati, nanti kau bisa celaka! Kau sedang beruntung hari ini, aku baru selesai makan. Jadi, aku belum berselera menyantapmu.” Pak Buaya pun pergi berlalu.

“Nah, itu satu lagi bukti bahwa akulah yang berkuasa di hutan ini. Buaya saja tidak berani menyentuhku.” Bimbo berceloteh seorang diri.

Dari jauh raja semut memperhatikan Bimbo. Ia merasa khawatir terhadap tingkah si gajah.

“Kalau kita tidak bertindak, maka rumah kita bisa hancur dirusaknya saat ia mengambil daun di pepohonan. Lagi pula tidak mungkin kita terus bersembunyi agar tidak terinjak olehnya,” ujar raja semut pada rakyatnya.

Akhirnya sang raja semut mengadukan permasalahannya pada raja hutan yang sebenarnya – Loreng. Usai mendengar keluhan raja semut, Loreng membisikkan sesuatu. Raja semut tampak tersenyum setelah mendengar solusi dari harimau itu.

Keesokan paginya, seperti biasa Bimbo berjalan melintasi hutan untuk mencari makan. Ia menggoyang-goyangkan sebuah pohon untuk menjatuhkan buahnya. Gajah itu tidak mengetahui kalau ternyata pohon itu adalah rumah bagi para semut.

“Serbu!” Tiba-tiba raja semut muncul dari balik semak-semak sambil memberi komando. Tentara semut merah mengerubungi tubuh Bimbo. Mereka berusaha menggigit tubuh hewan besar itu. Namun, ternyata kulit si gajah sangat keras dan tak mampu digigit oleh para semut.

Tentara-tentara semut itu berjatuhan akibat terkena kibasan belalai Bimbo, ada juga yang terinjak olehnya. Raja semut merasa sedih karena rencananya gagal. Tiba-tiba penasihat semut yang ikut menemani sang raja semut saat menemui Loreng berkata, “Paduka, ingatlah apa yang Loreng katakan kemarin. Setiap makhluk hidup di muka bumi ini memiliki kelemahan. Maka kita hanya perlu mencari titik itu untuk diserang.”Raja semut tampak berpikir, apa titik lemah dari gajah yang besar dan memiliki kulit yang keras? Ia lalu memerintahkan tentaranya yang masih tersisa untuk masuk ke dalam lubang belalai Bimbo. Ternyata bagian dalam belalai itu sangat empuk dan mudah untuk digigit.

Bimbo merasa kesakitan. Ia pun bersin hingga berulang kali, sambil mengibas-ngibaskan belalainya.

“Ampun raja semut! Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Ternyata aku tidak pantas menjadi raja hutan. Kaulah raja hutannya,” teriak Bimbo.

“Bimbo, tak masalah siapa pun raja hutannya. Yang terpenting adalah kita tidak boleh saling mengganggu dan menyakiti. Jangan merasa sombong hanya karena kau lebih besar dan kuat dibanding lainnya. Lagi pula, bukankah kita memang sudah memiliki Loreng sebagai raja hutan yang resmi?” ujar raja semut.

Bimbo pun menyadari kesalahannya. Setelah kondisi belalainya membaik, ia meminta maaf pada raja semut dan seluruh penghuni hutan. Gajah itu kini memiliki banyak teman yang menyayanginya.

Nah, sobat semoga kita semua bisa memetik pelajaran dari kisah ini, ya.

Ilustrasi: pixabay.com

Rumahmediagrup/Asri Susila Ningrum

2 comments