Bilakah Semua Ini Kan Berakhir?

Bilakah Semua Ini Kan Berakhir?

Sumber: Grup Whatsapp

Mencermati gambar di atas yang saya dapat dari salah satu grup whatsapp, terkadang ada perasaan miris. Di saat negara lain mengalami kurva yang menunjukkan ada penurunan secara signifikan, namun kurva di negara kita terlihat ruwet seperti benang kusut.

Jumlah pasien positif semakin hari semakin bertambah. Beberapa hari lalu sempat terlihat jumlah pasien menurun tapi hari berikutnya melonjak tinggi sekali. Ternyata eh ternyata kata salah satu teman yang bekerja di dunia kesehatan itu bukan jumlah pasien positif melainkan alat tes nya yang habis.

Berita pagi ini yang saya baca, Rumah Sakit (RS) Darurat Wisma Atlet Kemayoran pasiennya semakin membludak. Pasien meninggal juga semakin banyak. Tenaga medis banyak yang berguguran. Kemarin sempat ramai juga di instagram salah seorang perawat yang sedang hamil 4 bulan juga akhirnya gugur bersama janin yang ada di dalam perutnya.

Namun, perjuangan para tenaga medis seolah-olah tak ada artinya karena banyak masyarakat yang tak mengindahkan anjuran pemerintah. Pasar-pasar masih terlihat padat. Okelah kalau mereka pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan bahan pokok tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, toh itu kebutuhan primer.

Namun saya sendiri sampai tak henti beristighfar dan menggelengkan kepala saat ikut suami ke ATM, kebetulan mesin ATM berada di sekitar pasar. Di sana terlihat masih banyak orang yang hanya nongkrong, jalan-jalan ngabuburit, ngobrol dengan temannya atau mengelilingi penjual makanan untuk buka.

Maa syaa Allah, inikah Indonesia? Masyarakat banyak yang bersikap masa bodoh, hanya memikirkan perut sendiri. Mungkin baru akan kapok kalau sudah positif terkena si virus jahat itu.

Ditambah lagi peraturan pemerintah yang inkonsisten membuat warga menjadi bingung. Jika mendengar cerita teman bagaimana kondisi lockdown di India, mereka tak berani keluar rumah karena kalau ada yang berani keluar rumah pasti akan dipukul sama petugas. Terbayang bagaimana mencekamnya kondisi di sana.

Tidak, saya tidak menyarankan Indonesia untuk begitu juga. Tapi berharap adanya kesadaran masyarakat untuk membantu memutus rantai penyebaran COVID-19 dengan tetap di rumah saja. Jika pun harus keluar rumah harus ikuti memakai masker, menjaga jarak, dan tidak berkerumun. Karena kalau abai, nyawalah taruhannya.

Termasuk untuk nanti pelaksanaan salat Ied, ikutlah keputusan para ulama. Jika memang harus salat di rumah juga tak mengapa. Insya Allah pahalanya tetap sama. Sebagaimana diceritakan dalam hadis berikut:

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Dari hadits itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6: 136)

Yuk, mari kita sama-sama bantu tim medis sebagai garda terdepan dalam melawan Covid-19. Mereka mengharapkan bantuan berupa membutuhkan makanan, suplemen, ataupun yang lainnya. Mereka lebih berharap kita membantu mereka dalam memutuskan rantai penyebaran virus ini dengan ikut aware, tetap di rumah, dan mengikuti anjuran pemerintah.

Bagi yang terpaksa tidak mudik, bersabarlah, masih banyak media yang bisa kita manfaatkan. Khusus tahun ini kita mudik virtual dulu, insya Allah setelah wabah berlalu kita bayar dengan mengunjungi keluarga untuk melepas rindu di dada.

Ya Allah, tak henti-hentinya doa kami panjatkan, terlebih di penghujung Ramadan tahun ini kirimkanlah pasukanMu untuk menumpas kejahatan si Covid.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh