Bijak Memilah Sampah

Sampah merupakan salah satu masalah besar yang selalu dihadapi di daerah perkotaan, terutama daerah yang memiliki jumlah penduduk yang cukup padat. Kapasitas sampah yang besar dihasilkan dari limbah rumah tangga dan industri di daerah perkotaan. Apabila tidak ditangani dengan baik akan dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan dan lingkungan.

Pertumbuhan penduduk dunia berbanding lurus dengan sampah yang dihasilkan sehingga diperlukan sumber daya untuk pengelolaannya agar tidak mengakibatkan pencemaran bagi lingkungan. Di banyak negara maju, sampah yang diproduksi oleh masyarakatnya sedapat mungkin didaur ulang dan dijadikan produk-produk yang bermanfaat terutama sampah jenis logam, plastic, kertas dan gelas.

Sampah dapat dibedakan atas dasar sifat biologis-kimianya antara lain: sampah yang dapat membusuk, seperti sisa makanan, sampah kebun, pertanian, daun; sampah yang tidak membusuk seperti kertas, plastic, karet, gelas, logam; sampah yang berupa debu dan sampah yang berbahaya terhadap kesehatan seperti sampah yang berasal dari industri yang mengandung zat-zat kimia dan fisika yang berbahaya.

Beberapa cara yang dilakukan masyarakat untuk mengelola sampah adalah melalui penimbunan, pengomposan, pembakaran, penghancuran, daur ulang dan dumping.

Sampah yang telah dikumpulkan di tempat sampah sementara, ditimbun dan diratakan di Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA). Penimbunan sampah ini akan menimbulkan bau busuk dan menyebabkan berkembangnya bibit penyakit serta terganggunya kualitas air tanah.

Pengomposan biasanya dilakukan di tempat pembuangan sampah sementara. Pupuk yang dihasilkan melalui pengomposan bersifat ekologis dan tidak merusak lingkungan. Dalam pembuatannya pun tidak membutuhkan peralatan yang mahal.

Pembakaran sampah juga biasanya dilakukan di tempat pembuangan sampah sementara. Namun, masyarakat sering kali membakar sampah tanpa memilah sampah lebih dahulu. Pembakaran sampah yang tidak sempurna akan menghasilkan gas karbon monoksida yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia dimana gas karbon monoksida dapat menggantikan oksigen dalam haemoglobin sehingga kapasitas darah untuk membawa oksigen menjadi berkurang.

Penghancuran sampah dilakukan dengan cara memotong sampah kecil-kecil untuk mempercepat proses pembusukan.

Daur ulang sampah dilakukan dengan cara memilih sampah berdasarkan bahan pembuatnya. Misalnya, kertas, kaca, plastic, besi, karton, selenium yang dijual untuk digunakan kembali.

Pengelolaan sampah dengan cara dumping dilakukan dengan menumpuk sampah pada suatu area. Cara ini tentunya akan menimbulkan penurunan estetika lingkungan.

Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle).

Bayangkan saja jika kita berbelanja makanan di warung tiga kali sehari berarti dalam satu bulan satu orang dapat menggunakan 90 kantung plastik yang seringkali dibuang begitu saja. Jika setengah penduduk Indonesia melakukan hal itu maka akan terkumpul 90×125 juta = 11250 juta kantung plastik yang mencemari lingkungan.

Sejak tahun 2016, Pemerintah sudah memberlakukan aturan untuk membawa tas belanja sendiri. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menekan penimbunan sampah plastik. Kita sebagai warga negara, baiklah kita taat terhadap aturan pemerintah tersebut. Semoga ke depannya, Indonesia tidak lagi menjadi penyumbang sampah terbesar di dunia.