Big Fur

Suatu petang di bulan Desember 2019, saya sedang menjemur pakaian. Karena musim hujan, saya jemur di area garasi yang ada kanopinya. Menjelang maghrib saya jemur, berharap besok sudah bisa kering. Sedang asyik ngejemur pakaian, saya dengar suara hissing. Saya takut. Takut ular. Soalnya dulu pernah ada ular warna hijau masuk ke dalam rumah. Akhirnya sambil ngendap-ngendap dan dipenuhi rasa takut, sambil bawa sapu, saya keliling garasi. Saya amati dan dengarkan, ternyata ada suara dari dalam area bekas sumur dan di situ ada dua mata yang bercahaya. Saya langsung menjerit, “Ayaaaaaaah!” Sambil lari ke dalam rumah. Ya Allah saya gemetar. Saya kira itu mata ular. Lalu suami saya ngecek ke bekas sumur itu. Lalu dia tertawa. Sambil ngajak saya, dia bilang, “Itu kucing, Bu. Lihat!” Pas dikasih senter, terlihat jelas kucing warna bulunya abu-abu kehitaman, ada di dalam bekas sumur bersama dengan keempat bayinya.

Singkat cerita, kucing itu diberi nama Big Fur oleh anak-anak. Karena bulu ekornya lebat. Bulu badannya juga panjang. Seperti kucing turunan ras yang lucu-lucu itu. Mungkin baru pertama kali punya anak, dia galak kepada manusia. Padahal tiap hari, anak-anak memberi makan dia. Tapi setelah anak-anaknya bisa jalan, lari dan lompat, mereka yang selalu mengeong setiap jam makan. Atau ketika saya sedang masak, baunya tercium oleh mereka, jadilah kucing-kucing itu mengeong di depan pintu dapur.

Adanya keluarga Big Fur di rumah, jadi blessing in disguise buat saya. Kita yang belum pernah memelihara kucing, jadi harus memperhatikan makanan mereka. Juga pup dan kencing mereka. Akhirnya kita beli wadah dan juga pasir wangi untuk pup dan kencingnya. Inipun tidak mudah. Kita harus mengajari kucing-kucing itu agar mau pup dan kencing di pasir wangi. Anak-anak sampai nonton di youtube, bagaimana cara mengajari kucing agar mau buang kotoran di pasir. Selain kotorannya yang mengganggu, anak-anak kucing itu senang sekali mempermainkan tanaman saya yang ada di pot. Alhasil tanamannya mati semua. Karena mereka cakar atau tanahnya di cakari bahkan potnya bisa dibalik. Keuntungan akibat keriweuhan itu, anak-anak yang selama pandemi tidak bisa kemana-mana karena belajar dari rumah, mendapatkan kucing sebagai hiburan. Bisa memberikan mereka makanan sambil mengelusnya atau sekedar memandikan mereka atau curhat ke kucing hehe. Saya lihatnya jadi seperti simbiosis mutualisme. Anak-anak sampai hapal, makanan apa saja yang disukai kucing, tentunya sesuai budget yang saya berikan. Anak-anak belajar bertanggungjawab membersihkan pasir wangi dan memberi makan. Kucing-kucing juga senang bila dielus dan diajak main.

Hingga hari ini, Big Fur sudah empat kali melahirkan hehe. Anaknya kebanyakan berjumlah 3-4 ekor. Kadang selamat, hidup semua. Kadang hanya tinggal seekor yang selamat hidup sampai dewasa. Setiap anak yang sudah besar, biasanya pergi dari rumah dan tidak kembali. Sedangkan Big Fur, meskipun tidak diam di rumah, tapi kalau jam makan, pasti dia mengeong di depan pintu dapur rumah saya. Pernah suatu waktu anaknya mati, mau dikuburkan oleh suami, eh dibawa pergi sama Big Fur. Salah satu anaknya Big Fur ada yang mirip dengan kucing ras bulunya. Tetangga ingin sekali mengadopsinya. Anak saya tidak mengizinkan. Karena dia sudah terlanjur sayang kepada sang kucing.

Semoga betah tinggal di rumah kita ya, Cing!

Wawang Yulibrata