BIAS DALAM GENGGAMAN (EPISODE KE-5), OLEH UTYAGUSRIATI

Aku terdiam, tidak menyangka Kaka akan mendahului perkataanku. Dan yang lebih mengagetkan adalah ternyata dia sudah memiliki konsep sendiri. Pendidikan seperti apa selanjutnya yang akan dia tempuh, sudah dia bangun sendiri.

Sebagai seorang ibu, aku hanya tersenyum dan memberi jempol untuknya. Mas Setyo kulihat kebingungan. Pasti dia berfikir bahwa aku yang tidak konsekwen. Tidak kuat mengajak Kaka ke pesantren sebagaimana alasanku kepadanya. Aku hanya tersenyum sambil mengedipkan mata bahwa jangan merusak kebersamaan kali ini bersama anak-anak.

****

Butuh empat Minggu untuk meyakinkan Kaka akan manfaat dia bersekolah di pesantren. Waktu yang tidak sebentar untuk Kaka yang punya keberanian di atas rata-rata dan kemampuan beretorika.

****

Hari itu Kaka berpakaian celana jeans dengan aksesoris rantai yang menjuntai di saku celana depan. Rompi senada dengan beberapa sobekan tak lupa menjadi pelengkap jiwa mudanya. Sebenarnya kostum seperti itu kurang layak digunakan ke pondok pesantren. Terlebih lagi ini hari pertama kami mau mendaftar. Tapi kubiarkan dengan pengharapan dia menampilkan karakter sebenarnya. Dengan demikian Ustadz/ Ustadzah akan lebih mudah mengenali karakteristik para santri terutama buat putraku.

Beberapa pasang mata melihat ke arah kami. Maklum jadwal pendaftaran siswa baru. Beberapa orangtua dan siswa sepertinya membicarakan penampilan Kaka. Mereka pastilah berkesimpulan bahwa Kaka adalah anak yang nakal. Maklum, sudah menjadi budaya bahwa apa yang terlihat, begitulah karakternya. Orang lebih mudah menilai seseorang dari penampilan luarnya.

Bersambung

Nubarnulisbareng/ utyagusriati