BIAS DALAM GENGGAMAN (EPISODE KE-4), OLEH UTYAGUSRIATI

Kucoba berpikir bagaimana cara agar Mas Setyo betul- betul mendukung Kaka masuk pesantren. Lingkungan rumahku sangat tidak sehat untuk pertumbuhan karakter Kaka. Dia masih terlalu rapuh untuk berpijak ketika diguncang. Untuk anak seumur dia sangat mudah untuk dipengaruhi.

“Mas, jadi gimana ni tentang pendidikan Kaka. Masuk sekolah umum atau pesantren ?” Tanyaku dengan muka ditekuk. Aku sangat berharap Mas Setyo menyerah kali ini.

Mas Setyo tetap stay cool dengan HP nya. Dia kalau sudah memegang HP terkadang tidak mempedulikan sekelilingnya. Ini juga yang terkadang membuat aku kesel. Merasa diabaikan.

“Aku tidak akan bersikukuh begini, jika Mas punya waktu untuk mendidik Kaka. Dia laki- laki dan butuh figur seorang bapak.” Aku berhenti sejenak, menunggu reaksinya.

Jika Mas siap mendidik Kaka dan memberi teladan di rumah terkait agama, saya mengikuti kemauan Mas untuk menyekolahkan Kaka ke sekolah umum.”

” Bunda kan tahu kalau saya tidak punya waktu untuk mengajari Kaka.” Balas Mas Setyo dengan kesal.

” Karena saya tahu Mas tidak punya waktu, makanya kita harus mencari guru yang tepat untuk mengajari Kaka. Guru itu tidak hanya memantau kognitifnya tapi juga memastikan Kaka bisa mengaplikasikan ilmu agamanya.” Aku sangat bernafsu menjelaskan ke Mas Setyo.

” Dan itu hanya bisa didapatkan di Pesantren.” Tegasku kembali

” Kaka juga akan terbebas dari teman-temannya yang sering merokok.”

Kulihat Mas Setyo terdiam. Mungkin dia mencerna apa yang kukatakan.

” Baiklah kalau itu alasan Bunda. Nanti kita Carikan pesantren yang kualitasnya baik untuk Kaka.”

Segera kupeluk dan kucium tangan Mas Setyo sebagai rasa terima kasih ku. Alhamdulillah lega rasanya hati ini. Tinggal aku meyakinkan Kaka dan itu perkara mudah menurutku.

****

Kami makan di RM Favorit dengan menu seafood. Menu kesukaan kami sekeluarga. Kaka dengan lahapnya menyantap seekor cumi besar. Aku, Mas Setyo, dan Ade menyantap ikan bakar. Sejak kecil anak-anakku sudah kubiasakan makan aneka seafood. Bukan hanya hewan laut tapi juga kubiasakan menyantap ikan air tawar.

Setelah makan kucoba berbicara dengan Kaka. Aku yakin dia pasti bersedia.

” Kaka mau mendaftar di SMP Unggulan Bunda. Kaka yakin pasti diterima karena memiliki sertifikat juara kabupaten.” Katanya dengan bangga.

“Kalau tidak diterima Kaka akan Mendaftar di SMPN 2. ” Kalau gagal lagi akan masuk pesantren.

Aku sangat sedih mendengarnya. Kukira aku gampang mengarahkan Kaka. Nyatanya berbalik 360 °.

****

Bersambung

Nubarnulisbareng/ utyagusriati

” Aku terdiam tidak menyangka Kaka akan mendahului perkataanku. Tadinya