BIAS DALAM GENGGAMAN (EPISODE KE-3), OLEH UTYAGUSRIATI

Beberapa hari kemudian, kuberanikan diri untuk melanjutkan kembali pembicaraan tentang pesantren dengan Mas Setyo. Waktu tidak boleh dibiarkan berlama tanpa kepastian. Terlebih lagi Kaka juga sudah mulai menyinggung tentang kelanjutan sekolahnya. Katanya dia diajak oleh Gilang mendaftar ke SMPN 1. Dari intonasi suaranya sangat kumengerti keinginannya amat besar bersekolah di sekolah umum. Segera kutepiskan . Urusan Kaka gampanglah menurutku. Dia bisa kutangani sendiri.

“Mas, boleh ga kita lanjutkan pembicaraan tentang sekolah Kaka ?”

“Apakah Pembicaraan yang lalu belum jelas dan tuntas ?”

” Saya sangat khawatir Mas jika Kaka kita masukkan ke sekolah umum, dampaknya kurang baik terhadap karakternya.” Kucoba menjelaskan alasanku secara perlahan.

” Kita ini hidup di lingkungan masyarakat pedesaan, Mas. Tingkat pendidikan masyarakatnya sangat rendah. Tapi daya cobanya sangat tinggi.” Kataku lagi.

Kuingat kembali lingkungan alam rumah yang kubangga- banggakan. Suasana pedesaan yang sangat asri. Samping kiri rumahku terhampar hijaunya sawah bak permadani. Diselingi kelapa dan pohon pisang. Di halaman belakang ada rimbunan pohon bambu yang menambah semilirnya angin sepoi-sepoi. Di bawahnya berdiri kandang ternak unggas.

Tapi di balik alamnya yang ramah, pergaulan para remaja sangat mengkhawatirkan. Usia SMP Sudah mencoba merokok, memegang HP tanpa kontrol orang tua, dan beberapa hal lainnya yang membuatku ingin menjauhkan Kaka dari pengaruh buruk itu.

****

Bersambung

Nubarnulisbareng/utyagusriati