Bias dalam Genggaman (episode ke-2), oleh utyagusriati

Ada satu kegiatan rutin tahunan di sekolahnya yang bernama “Samen/Wisuda Sekolah”. Kegiatan ini selalu dinanti-nanti karena digabungkan kenaikan kelas untuk kelas 1 s.d. kelas 5, dan perpisahan bagi kelas 6. Kegiatan ini berisi hiburan dari seluruh kelas, diselingi dengan sambutan dari Bapak& ibu guru, serta pejabat yang diundang. Dari beberapa rangkaian kegiatan, upacara adatlah yang sangat menarik buatku karena kakak tampil sebagai pengantinnya.

Barisan kursi setiap tingkat di pisahkan. Hal ini memudahkan para orangtua yang anaknya sekelas bisa berkomunikasi. Para orangtua rata rata membicarakan kelanjutan pendidikan anak-anaknya.

“Bunda Kaka, Kaka mau lanjut SMP dimana?” Tanya Mama Gilang yang duduk di sampingku sambil sesekali makan buah jeruk yang ada dalam kotak Snack yang dibagikan.

“Saya rencana ingin memasukkan Kaka ke pesantren.”

“Kaka yang mau ke pesantren?” Mama Gilang kembali bertanya dengan ekspresi kurang percaya. Memang sih, Pesantren kurang seksi Di mata ibu-ibu di sekolah ini. Mereka berasumsi bahwa pesantren adalah sekolah bagi anak-anak yang bandel, anak yang tidak bisa diarahkan. Bahkan ada orangtua yang mengancam anaknya masuk pesantren jika tidak menuruti dan taat ke orang tua.

“itu keinginan saya Mom Gilang.”

” Sayang loh, Kaka dimasukkan ke pesantren. Dia kan gampang bergaul, anaknya juga baik dan pintar. Masukkan saja ke SMP negeri bareng Gilang.”

“Nanti saya pertimbangkan kembali ya Mom Gilang? Jawabku dengan senyum terpaksa. Ada kesedihan yang merambat dalam sanubari ku. Image pesantren yang sedikit menyimpang dari fungsinya. Mereka menyamakan pesantren dengan penjara. Siapa yang nakal tempatnya di pesantren. Siapa yang tidak bisa diarahkan nanti tempatnya di pesantren. Pun orang tua berharap anak-anaknya yang nakal ketika ketika dimasukkan ke pesantren, nantinya keluar dalam keadaan sudah insyaf.

Memang sih para santri terlihat sangat soleh dan solehah. Mereka punya adab yang betul- betul sesuai kultur Budaya Indonesia. Sesuai perintah agama bahwa anak harus taat kepada orang tua, dan itu yang diajarkan oleh para Ustadz, Ustadzah, dan para Kiai di pondok-pondok pesantren. Hal ini juga yang barangkali menjadi penyebab pergeseran pandangan masyarakat tentang pondok pesantren yang serba bisa.

****

Di rumah saya pun kembali berdebat dengan Mas Setyo terkait kelanjutan pendidikan Kaka ke pesantren. Mas Setyo kurang mendukung kalau Kaka dimasukkan ke pesantren.

“Kaka itu masih kecil, Bunda. Dia belum bisa mandiri. Bunda kan tahu bagaimana kehidupan di pesantren. Para santri harus nyuci sendiri, masak sendiri, belum lagi jadwal tidurnya yang sangat sedikit. Di rumah, Bunda bisa melihat sendiri kan selama ini bagimana Kaka sering keteteran tugas-tugas sekolahnya setiap malam. Sementara Kaka pulang dan nyampe di rumah pukul setengah lima.” Mas Setyo memberikan alasannya yang tentu saja tidak bisa kubantah.

Iya sih, selama ini saya harus turun tangan membantu menyelesaikan sendiri tugas-tugas sekolahnya. Kaka sering tertidur di atas serakan buku-buku tugasnya. Terkadang saya kasihan anak saya tidak punya waktu bermain dengan keluarga, apalagi dengan teman di lingkungan rumah kami.

Sepanjang hari saya menguras otak bagaimana caranya agar Mas Setyo setuju Kaka dimasukkan ke pesantren tanpa harus menentang setiap alasannya yang selalu masuk akal. Entah mengapa, naluriku sebagai seorang ibu yang mengharapkan akhlak Kaka lebih saleh, mendorong agar Kaka ke pesantren. Kaka harus mendapatkan ilmu agama sejak dini.

****

Bersambung