Bias dalam Genggaman (episode ke-1), oleh utyagusriati

Kebahagiaanku tidak tergambarkan karena putraku yang pertama tahun ini sudah menyelesaikan Sekolah Dasar (SD). Enam tahun di SD adalah waktu yang terlama untuk menempa putraku bagaimana mengenal dunia selain di rumah. Masih kuingat dengan jelas bagaimana sibuknya kami berdua menyiapkan perlengkapan sekolahnya di hari pertama. Kulihat binar di matanya ketika dia memilih sendiri tas bergambar tokoh kartun angry bird kesukaannya. Memilih buku, pencil, penghapus, sepatu dan perlengkapan belajar lainnya. Semuanya ternyata bergambar Angry bird. Aku ingin putraku merasa bangga menginjakkan kakinya di dunia sekolah dengan membawa perangkat pilihan hatinya.

Waktu itu berkumandang adzan subuh, ketika suara mungilnya membangunkan aku. Dia sudah siap dengan handuk untuk ke kamar mandi. Hal yang tidak biasa dia lakukan.

Bersama kantuk yang menggantung di kelopak mata, kutuntun tangan mungilnya ke kamar mandi. Kuatur suhu air menjadi hangat seperti biasanya ketika putraku mandi.

“Kakak mandi air dingin saja, Bunda. Kan sudah gede.”

Ini perubahan apa lagi yang kuterima darinya ? Tanyaku dalam hati karena terus – menerus mendapat kado perubahan dari sikapnya. Kemarin aku yang harus bolak-balik ke kamar untuk membangunkan. Sekarang malah dia bangun sendiri. Biasanya mandi dengan air hangat, sekarang malah ingin dengan air dingin. Semoga saja ini bisa bertahan seterusnya, doaku sambil tersenyum melihat tingkah lucunya.

Nubarnulisbareng/utyagusriati