BERUBAH JADI CINTA

“Waaaa tolong Yah itu… Itu.. “ aku kegelian sambil menunjuk.
“Gak apa-apa Bun, jangan histeris”.

Ketika aku merasa histeris bukan karena takut, tapi lebih ke trauma pasca kecelakaan beberapa tahun yang lalu.

Suamiku hanya tersenyum, sambil terus mengingat kan bahwa semua baik-baik saja.
Ya, aku merasa tidak nyaman berada di dekat hewan berbulu, yang sejatinya lucu, menggemaskan dan imut. Entah kenapa aku jadi begini.

Flashback**

“Mah, aku pergi dulu ya sama temen”
“ Udah malem lho Nduk, pulang kerja buat istirahat. Mandi, makan gitu, bukan malah main”.

Aku sudah di peringatkan Mama kali ini, namun tak enak dengan temanku Widi yang sudah terlanjur datang ke rumah.

Malam itu jam sembilan lewat lima belas, aku pergi bersama teman-teman yang sejatinya kami baru pulang lembur dari kantor.

Hanya sekedar makan bersama dan menceritakan keluh kesah pekerjaan. Sepele sekali, namun setidaknya refreshing sejenak. He-he-he.

Tak terasa malam kian larut, jam sudah menunjukkan di mana seharusnya anak perempuan tak wajar bila berkeliaran.
Jam sebelas malam tepat, di depan kampus.

Ciiitttt…. Brakkkk!!!

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu