BERUBAH JADI CINTA

Bagian 05

Ku perhatikan lama-lama, aku merasa kasihan. Iba menyelimuti hatiku. Ada pertarungan batin, antara aku buang saja, atau aku rawat.

Setelah berdiskusi dengan anakku dan suami, mereka mau merawat nya.
Chiko namanya, lucu.

Tapi galak memang. Mungkin masih perlu adaptasi.
Aku membeli makanan khusus kucing dan segala perlengkapan, sampai kandang, semua di persiapkan di bantu adikku dan suami.

Anakku sudah lupa akan perjanjian awal, bahwa akan merawat bersama, begitu juga dengan teman-temannya.

Jadilah aku kini sendiri menghadapi anak kucing galak ini.
Pertama ku sentuh aku merasa merinding, takut sekelebat kejadian bertahun lalu melintas.

Aku yakinkan diri, bahwa semua baik-baik saja.
Bismillah, aku pasti bisa.

Beberapa bulan perasaan itu pudar, kini berubah menjadi cinta.

Hujan deras bila Chiko belum di rumah kami cari bersama, anggota keluarga baru yang memang unik.

Sampai saat ini Chiko masih setia bersamaku, di temani dengan Milo, anak kucing yang hendak di buang empunya.

Tak tega lalu aku bawa pulang ke rumah.
Kini Chiko sudah beranak delapan, lahiran yang pertama tiga anak kucing, yang kedua lima anak kucing.

Jadilah kini rumahku seperti peternakan kucing. Ha-ha-ha
Ada sepuluh ekor kucing, dan semuanya aku rawat sendiri.

Ada rasa sayang tersendiri, ada kepuasan batin dan rasa syukur.
Mungkin Tuhan memang sudah menggariskan segalanya.

Satu hal yang aku pelajari, bahwa di setiap rezeki yang aku dapatkan, ada hak mereka.
Tidak memiskinkan, semua itu adalah keikhlasan.

Dan itu adalah pilihan masing-masing orang.

Apa pun makhluk ciptaan Tuhan memang sudah seharusnya kita kasihi, tidak dengan harus memiliki, namun setidaknya tak menyakiti.

Tamat.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu