BERUBAH JADI CINTA

Bagian 04

“Tapi Ma…” jawabku ragu.

“Sudah, ceritanya di rumah saja, toh sudah kejadian, jadikan sebagai pelajaran, yang perlu kamu bayar mahal”.

Mama hanya tersenyum, sedangkan adikku hanya geleng-geleng kepala, lalu menepuk jidatnya sendiri.

Seakan berkata, aku anak yang bandel, dan inilah akibatnya.
Ya aku terima, memang aku yang salah.

“Mah, maaf ya”.

Saat itu benar-benar aku minta maaf dari hati yang paling dalam, penyesalan yang terdalam karena mengabaikan kata-kata Mama.

“Wes, Nduk jangan banyak cerita, nanti nangis, mewek, tambah loro nanti lukamu” kali ini Nenek angkat bicara.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, sambil menyesali apa yang terjadi.
Andai saja aku menurut apa kata Mama, mungkin tak akan terjadi.

“Maturnuwun nggih Mas Polisi,sudah menolong cucu saya, semoga kebaikan njenengan di balas Allah SWT” .

“Maturnuwun Nduk sama Mas e” Kakek mengingatkan.
“Sudah tadi kok Mbah”.

Di rumah**

Aku yang tidak bisa berjalan sama sekali, karena luka di bagian kaki yang cukup lebar dan memanjang.

Selama dua bulan aku berjalan harus di bantu, setidaknya di papah.

Pakai alat bantu aku tak mau. Malu.
Untungnya di kantor teman-teman baik dan perhatian padaku. Ah, tak enak hati aku jadinya.

Selang beberapa bulan aku sembuh,bisa berjalan mandiri meski tertatih, namun luka itu membekas sampai sekarang.

Sekarang**

Aku yang teringat akan kejadian itu masih berpikir bahwa itu kucing.

“Sudah aman Yah?”
“Sudah Bun, gitu aja masih trauma, ayo di lawan pelan-pelan”.

Aku masih saja takut dan merasa geli, rasa campur aduk tak karuan masih saja ada, sampai suatu hari ada hal yang mengubah segalanya.

Anak lelakiku siang itu bermain dengan teman-temannya, ku perhatikan dari dalam rumah, heboh sekali sepertinya.


Bolak-balik masuk rumah, ada ayam goreng dan sejumput nasi di ambilnya.

“Buat apa Dek?”


“Kasih makan kucing Ibun, kasian masih kecil di tinggal ibu nya”.

“Cuci tangan lho nanti sesudahnya”
“Oke” teriak anakku berlalu jalan ke depan rumah.

Tiga hari anak kucing itu selalu mengeong. Aku yang tak paham akan dunia per’kucingan lalu menelepon adikku yang memang hobi dan cinta akan anabul ini.

Ternyata kucing itu lapar dan kedinginan, butuh rumah dan perhatian.

Dibuatkan nya rumah kecil dari kardus, di alasi dengan handuk bekas, di sediakan makan dan minum seadanya.

Teman-teman anakku bergantian merawat, itupun hanya hitungan hari saja.
Ku perhatikan lama-lama, aku merasa kasihan. Iba menyelimuti hatiku.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu