BERUBAH JADI CINTA

Bagian 03

“Dari mana malam-malam begini?” tanyanya lagi mengalihkan perhatian sakit yang kurasakan.

Aku hanya bisa mengaduh, meringis menahan pedih. Rasanya ingin menangis, tapi aku tahan.
Sungguh yang ada hanya penyesalan.

Aku tak bisa berjalan, harus di papah dan butuh bantuan.
Motorku sudah remuk menurut cerita temanku, sudah di bawa Pak Polisi.

“Duh, panjang ini nanti urusannya” batinku
“Kamu gak apa-apa Wid?”
“Gak apa, aku sudah di periksa, hanya luka lecet dan lebam, selebihnya aman”.

Ada rasa syukur dalam hatiku, namun tetap gelisah.

“Boleh saya minta nomor keluarga nya Mbak?”

“Untuk?” aku masih shock dengan kejadian beberapa jam yang lalu.

“Supaya bisa jemput Mbak nya, sudah malam, kan gak bisa pulang sendiri”.

Untung aku bertemu dengan polisi yang baik hati.
“Motor Mbak nya saya bawa ke bengkel langganan saya, untung nya Malam Minggu begini dia masih buka, ini nomor hape dan alamat bengkelnya”.

Baik betul Mas Polisi satu ini.

Usianya masih muda, mungkin empat tahun di atas usiaku saat itu. Namun tak terlihat wajah kekanakan, mungkin karena tuntutan pekerjaan.

Mengharuskan menjadi pribadi yang disiplin dan mengayomi masyarakat sebagai salah satu tugasnya.

“Maafin sudah suudzon tadi” aku hanya berujar dalam hati tak berani ku ungkapkan.

“Terima kasih banyak Mas eh Pak atas pertolongan nya”. Aku masih tak berani menatap nya karena sudah berpikiran buruk padanya.

“Panggil apa saja boleh, senyaman nya saja Mbak” lagi-lagi senyum tulusnya terukir.

Selang beberapa jam kemudian…

Aku hanya bisa menunduk lesu, ketika Mama, Kakek, Nenek, adikku datang menjemput.

Merepotkan saja aku ini.

Tanpa bicara panjang Mama hanya memeluk dan mengusap punggungku.
“Sekarang kita pulang ya” hanya itu yang keluar dari mulut Mama.

“Tapi Ma…” jawabku ragu.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu