Bersama Kita Bisa

Bersama Kita Bisa

“Kak, jadi ngga kita ke pasar?” tanya saya.

“Ga jadi deh, Mah. Lagi masa PSBB nanti malah kena tangkap. Takut korona. Di rumah aja deh.” Itu jawaban si kakak, anak perempuan saya satu-satunya.

Saya juga sebenarnya ragu, tapi mengingat lebaran yang tinggal hitungan hari, ada keinginan untuk membelikan anak-anak pakaian baru.

“Memangnya kalau lebaran harus beli pakaian baru, ya, Mah?” Anak laki-laki saya bertanya.

“Tidak harus, nak. Rasulullah menganjurkan kita memakai pakaian terbaik yang kita punya saat lebaran.”

Alhamdulillah, saya bersyukur anak-anak tidak terlalu menuntut untuk membeli pakaian baru. Memakai pakaian lama yang masih bagus, bagi mereka bukan masalah. Apalagi setelah menonton berita di layar kaca, adanya pemeriksaan dan sidak di pasar-pasar yang masih saja ramai saat pandemi melanda, membuat mereka enggan pergi ke pasar. Ditambah lagi cerita tetangga, di pasar yang akan kami tuju, ada beberapa pedagang yang terinfeksi covid-19. Ya Allah, angka pasien yang terkena covid-19 semakin bertambah dari hari ke hari. Kapankah pandemi korona akan berakhir?

Para pedagang membuka lapak mereka untuk mengais rezeki, karena itulah mata pencaharian mereka. Para pembeli pun berbelanja karena kebutuhan menjelang hari raya. Namun yang mengkhawatirkan, mereka mengabaikan hal-hal penting. Mereka berdesak-desakan, tak ada jarak sehingga kontak fisik tidak dapat dihindari, tidak memakai masker, apalagi bersarung tangan. Semua protokol diabaikan.

Peraturan yang digaungkan seolah menguap seiring kesibukan menjelang hari raya. Volume kendaraan di jalan semakin bertambah. Banyak pemudik tetap berangkat ke kampung halaman. Kapankah pandemi korona akan berakhir?

“Kalau sudah ajalnya, kita semua akan mati.”
“Mau ini itu takut korona. Susah. Santai aja, jangan panik.”
Beberapa orang menyuarakan seperti itu. Memang betul semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Tapi, menghindari dan mencegah marabahaya, dalam hal ini virus korona, adalah salah satu bentuk usaha kita. Tidak pasrah sepenuhnya pada keadaan.

Jangan panik. Betul. Tapi juga tidak menanggapi masa pandemi ini dengan santai. Tetap waspada. Terlalu panik akan membuat kita kehilangan kendali. Terlalu santai pun bisa merugikan kita.

Innallaaha laa yughoyyiru ma biqoumin hatta yughoyyiruu ma bianfusihim.” Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha untuk mewujudkan perubahan itu.

“Indonesia? Terserah!” Ini ungkapan yang akhir-akhir ini viral. Bagaimana kalau kita ganti, “Indonesia, bersama kita bisa!”? Bersama kita patuhi peraturan pemerintah. Bersama kita jalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Bersama kita lawan covid-19. Bersama kita bisa!

WCRumedia/yuyunkho