Berlebaran di perantauan bagian pertama

Sedih … Sebentar lagi ramadhan pergi. Nangis … Karena merasa belum maksimal dalam beribadah.

Hari raya Idul Fitri sebentar lagi tiba. Hari di mana umat muslim di dunia merayakannya dengan sukacita. Begitu pula dengan kami sekeluarga. Meskipun di perantauan, kami juga ikut merayakannya.

Ketika hari itu tiba, di Thailand tidak libur alias bukan tanggal merah. Karena tanggal merah di kalender kerajaan ini, biasanya berupa tanggal kelahiran raja dan ratu, hari raya agama hindu dan budha serta tahun baru sakka. Natal juga tidak libur. Biasanya, orang Indonesia yang akan merayakan hari raya Idul Fitri mengajukan cuti ke kantor atau universitasnya masing-masing. Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok akan memberikan kemudahan. Berupa surat izin yang dikeluarkan secara resmi dari Kedubes, yang bisa diunduh lalu diberikan kepada instansi tempat orang Indonesia bekerja ataupun kampus tempat mereka menimba ilmu.

Suami saya sudah mengajukan cuti seminggu sebelumnya. Jika diizinkan, bisa libur satu hari penuh. Kalau tidak diizinkan, bisa minta izin datang terlambat atau cuti setengah hari. Kalau diizinkan cuti sehari penuh, kita biasanya berlebaran di KBRI Bangkok yang jaraknya 40 km dari apartemen kami. Enaknya berlebaran di KBRI, bisa mencicipi semua jenis masakan Indonesia, gratis. Juga keseruan bertemu dengan saudara sebangsa dan setanah air. Haru rasanya bertemu dengan sesama orang Indonesia di perantauan.

Sebelum hari lebaran, saya bikin ketupat. Karena tidak tahu bagaimana mendapatkan daun kelapa buat ketupat, saya bikin pakai magic com saja. Mudah sebetulnya. Membuat ketupat ala magic com ini. Siapkan beras seperti biasa kita mencuci beras untuk masak nasi. Hanya saja perbandingannya adalah beras : air = 1:3. Kalau bisa beras yang digunakan adalah beras jenis pera atau tidak pulen. Kalau ingin ada rasa, tambahkan sedikit garam. Setelah jadi nasi, selagi panas, lalu diaduk hingga hancur atau sudah tidak berbentuk nasi lagi. Setelah itu, saya biasanya memasukkannya ke dalam wadah hingga padat. Atau bisa juga dimasukkan ke dalam plastik hingga padat. Lalu simpan dalam kulkas minimal selama tiga jam agar menyatu. Setelah tiga jam, bisa langsung dikonsumsi.

Selain ketupat, saya bikin opor ayam. Beli ayampun kudu hati-hati. Karena ada ayam yang halal dan tidak. Biasanya saya beli ayam halal di pasar tradisional atau pusat perbelanjaan yang besar dan lengkap. Kalau di pasar tradisional, namanya Thalad Thai Traditional Market, berjejer penjual ayam dengan label halal. Penjualnya biasanya berjilbab atau kalaupun laki-laki, mereka suka mengucap salam. Harga sekilo ayam sekitar 70 THB atau sekitar 35ribu rupiah. Karena saya sering beli ke jongkonya, mereka tidak segan memberi diskon. Kadang memberi lebih timbangannya. Kalau saya tanya, kenapa mereka memberikan diskon, mereka bilang, karena kita bersaudara. Saya terharu. Sampai ingin nangis. Di sini, di perantauan, tanpa sanak saudara, orang lain menjadi saudara. Bukan karena pertalian darah tetapi karena sesama muslim.