Berlebaran di Perantauan bagian ketiga-habis

Berlebaran di KBRI Bangkok, dapat dilaksanakan bila kantor suami memberikan izin cuti sehari penuh. Kalau tidak diberi cuti, ya kita berlebaran di mesjid terdekat saja. Anak-anak yang sudah sekolah, biasanya minta izin tidak masuk sekolah pas lebaran. Biasanya pihak sekolah sudah maklum. Anak-anak kami bersekolah di sekolah internasional. Yang siswa dan orangtuanya berasal dari berbagai belahan negara, terutama negara Asia. Beragam pula agama yang dianut.

Seperti hari lebaran lainnya, kita bersiap-siap bersngkat ke mesjid di dalam kampus. Saya lupa lagi dengan nama mesjidnya hehe. Karena dulu tidak terlalu memperhatikan. Bedanya hanya di kostum. Kalau di Indonesia, lebaran identik dengan mengenakan pakaian terbaik. Kalau kita, langsung pakai seragam sekolah dan pakaian kerja. Karena setelah sholat ied, masing-masing dari kita, berangkat ke tujuannya. Suami ke kantor dan saya mengantar anak-anak sekolah.

Biasanya saya atau suami, saling mencari info, jam berapa sholat ied akan diselenggarakan. Biasanya sih sekitar pukul 7 pagi. Akhirnya kita bersiap-siap sejak pukul 6 pagi. Sarapan lalu berangkat ke mesjid dengan berjalan kaki. Sambil berjalan kaki suami mengajarkan anak-anak untuk mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil sepanjang jalan. Jarak antara apartemen dan mesjid sekitar 500m, selama berjalan, kami bersenda gurau. Kadang, bertemu dengan sesama muslim lainnya yang menuju arah yang sama, mesjid. Jadilah kita jalan kaki beramai-ramai. Sampai di mesjid, saya masih kebagian duduk di dalam mesjid. Pendingin udaranya membuat badan saya segar kembali, walaupun berkeringat. Saya bertiga dengan anak perempuan saya dan anak bungsu yang masih belajar berjalan. Anak laki-laki ikut dengan ayahnya di saf depan. Imam sholat ied biasanya adalah imam mesjid tersebut. Yang selama ramadhan, setiap tarawih membaca satu juz tiap hari. Khotbahnya pakai bahasa Arab tapi kadang diselipkan bahasa Inggris. Saya kurang khusyuk sholatnya karena anak bungsu nangis ketika saya berdiri untuk menunaikan sholat ied. Akhirnya saya sholat sambil menggendongnya. Alhamdulillah selesai khotbah, kita bersalaman. Saudara seiman kali ini berasal dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Afganistan dan juga ada yang dari Sudan.

Selesai bersalaman, biasanya ada bincang-bincang sebentar lalu nanti pukul sembilan ada jamuan makan di cafeteria, yang disponsori oleh ikatan mahasiswa muslim di kampus. Saya pamit dulu kepada teman-teman muslim di sana, mau antar anak sekolah. Suami juga pamit, langsung ke kantor. Alhamdulillah saya bisa antar anak-anak sekolah tepat waktu. Setelah itu pulang dulu ke apartemen. Nyuapin anak bungsu. Setelah pukul 9, saya menuju rumah teman sesama orang Indonesia. Saya ingin ikutan jamuan makan mahasiswa muslim di cafeteria. Ternyata teman saya sudah menunggu. Lalu kita berangkat menuju cafeteria. Sesampainya di sana, sudah ada antrian masuk. Kita antri dengan sabar. Karena ternyata antrian itu langsung mengantri ambil makanan. Alhamdulillah antriannya rapi, hanya satu jalur dan tidak ada yang menyela, tertib sekali.

Ketika antrian saya sampai di tempat makanan, ternyata nasi briyani dan ayam goreng serta menu lainnya yang saya tidak hapal namanya. Khas hidangan dari negara Asia Selatan seperti Bangladesh, Afganistan dan Pakistan. Saya ambil saja nasi dan ayam gorengnya. Kalau yang lainnya tidak saya ambil karena takut tidak cocok di lidah, takut gak kemakan, nanti mubazir hehe. Pas ngambil peralatan makan, ternyata saya baru tahu, kalau peralatan makan di cafeteria kampus ini terpisah antara alat makan untuk muslim dan non muslim. Begitu pula dengan wastafelnya. “Hebat banget!” Gumam saya. Ternyata pihak kampus dan pengelola cafeteria, sangat memperhatikan kaum muslim. Meskipun kita minoritas di sana. Mereka menjamin agar kita tetap bisa makan makanan halal. Dan kita juga dijamin dengan kebersihan peralatan makan yang kita gunakan agar tidak tercemar dengan hal yang haram.

Kita duduk di meja khas kantin. Mirip kantin Salman di jalan Ganesha, kalau di Bandung. Meja kantin berbentuk persegi panjang. Bisa memuat banyak orang. Permukaan meja berwarna putih bersih. Sebagai tanda dirawat dan dibersihkan secara berkala oleh pengelola cafeteria. Saya duduk semeja dengan keluarga teman. Anak-anak setelah makan bisa saling bercanda atau main ke luar cafeteria. Setelah beres makan, kita bubar. Masing-masing kembali kepada kegiatannya. Saya dan anak bungsu kembali ke apartemen. Temen saya juga kembali ke apartemennya.

Itulah pengalaman kami sekeluarga berlebaran di rantau. Di mana muslim di sana adalah kaum minoritas. Ada suka dan dukanya. Tapi buat saya, selama bisa seatap dengan suami, bahagia rasanya. Kalau ibunya bahagia, anak-anakpun demikian.

Wawang Yulibrata