Berlebaran di Perantauan Bagian kedua

Selain bikin opor ayam, semur atau rendang daging juga jadi pilihan saya untuk menu lebaran. Biasanya anak-anak suka, asalkan tidak pedas rasanya. Beli daging sapi juga perjuangan banget. Jarang yang jualan. Karena menurut agama mayoritas di Thailand, yaitu hindu dan budha, sapi adalah hewan keramat. Kalau daging babi sih banyak. Kalau kita ke bagian daging, pasti disambut dengan “senyum” di kepala babi yang tergantung di setiap kios di pasar tradisional di Thailand. Mirip dengan ayam utuh yang digantung di kios ayam di Indonesia. Baunya khas. Saya hapal sekali dengan bau daging babi yang dimasak, karena hampir setiap hari, tetangga saya yang orang Filipina, masak daging babi. Saking ingin tahu apa yang dimasak dengan bau seperti itu, saya datangi apartemennya. Lalu dia jawab bahwa dia sedang memasak daging babi. Oh ternyata seperti itu ya bau daging babi yang dimasak. Kalau mentahnya mah saya tidak tahu dan belum bisa membedakan antara daging babi dan bukan daging babi.

Lebaran tanpa kue pernah kami alami selama di perantauan. Karena saya awam dengan bahan yang halal. Beli bahan kue yang halalpun, saya juga tidak tahu. Peralatan bikin kue pun, tidak punya. Jadi kue kering seperti nastar dan putri salju tidak pernah tersedia di apartemen kami. Tapi kami punya teman yang ahli baking. Dia sudah hapal dengan berbagai macam bahan kue yang halal. Diapun tahu di mana beli bahan halal tersebut. Dan peralatan bakingnya sangat kengkap. Akhirnya kalau kami ingin kue, selalu pesan kepadanya.

Lebaran di KBRI Bangkok begitu berkesan. Ramai pula bisa bertemu saudara sebangsa dan setanah air dari berbagai daerah di Indonesia. Kalau mau ke sini, berangkat dari apartemen pagi-pagi. Agar bisa mengikuti shalat Idul Fitri bersama. Setelah beres sholat, biasanya kita bersalaman dengan semua yang hadir, termasuk duta besar Indonesia untuk Thailand dan keluarganya. Antrian bersalaman nyambung dengan antrian makan. Makanannya ditata di atas meja-meja panjang secara prasmanan. Ada meja yang penuh dengan makanan utama, seperti ketupat, opor, rendang, kerupuk dan sebagainya. Ada pula meja minuman seperti susu, air putih, soda, wedang, jamu, bajigur dan lain-lain. Meja lainnya diisi dengan segala macam buah-buahan. Buah-buahan di Thailand hampir mirip dengan di Indonesia. Kue-kue kering dan basah khas lebaran juga tersedia, begitu pula dengan jajanan pasar dan juga jus. Yang menarik buat anak-anak adalah tukang es krim. Tukang es krim yang merupakan penduduk asli Thailand ini, selalu dikerubuti oleh anak-anak kecil. Anehnya, dia bisa berbahasa Indonesia sedikit. Ternyata sudah beberapa kali, dia diundang untuk jualan di KBRI. Jadi dagangannya dibeli oleh pihak KBRI, dia tinggal melayani para tamu saja, menyediakan es krim tentu saja. Rasa es krimnya seingat saya rasa durian, ada juga rasa lainnya gapi saya lupa. Bisa diberi berbagai macam topping. Kita bisa memilih toppingnya. Ada meses, susu kental manis dan kacang. Anak-anak kami lebih suka es krim tanpa topping. Mereka antri dengan sabar.

Wawang Yulibrata