Berkah “An Tarodhin” Dalam Jual Beli

Jual beli merupakan bagian dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada yang jadi penjual. Ada pula yang jadi pembeli. Semuanya terikat dalam aturan yang berlaku di masyarakat. Jika aturan tak ditepati, maka bisa jadi jual beli akan berlangsung dengan ricuh dan kacau. Bahkan bisa terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli.

Berikut ini contoh jual beli yang kurang benar di masyarakat.

  1. Ada perempuan tua penjual ikan yang sedang menawarkan ikannya. Kemudian datang seorang laki-laki separuh baya yang ingin menawar ikan tersebut. Terjadilah percakapan antara keduanya.
    “Mbah, berapa harga ikannya per ekor?” Tanya laki-laki tersebut.
    “10 ribu.” Jawab penjual ikan.
    “5 ribu ya Mbah.” Tawar laki-laki itu. “Apa? 5 ribu…? Ikan sebesar ini ditawar 5 ribu?” Penjual itu bersuara keras.
    “Lah, kan saya nawar Mbah. Kalau tak boleh, ya ga apa-apa.” Kata laki-laki itu seraya beranjak mau pergi.
    “Eh, tunggu dulu. Ikan sebesar ini ditawar 5 ribu? Yang bener aja.” Omel penjual ikan sambil menggelengkan kepala dan berwajah marah.
    “Ya sudah Mbah. Kalau tak boleh.” Kata laki-laki itu dan melangkah pergi. Baru saja tiga langkah, penjual ikan itu sudah memanggilnya.
    “Hei, sini. Gitu saja langsung pergi. Berapa tadi nawarnya? 5 ribu? Ikan sebesar ini koq ditawar 5 ribu. Ya sudah kesini.” Penjual itu mengambil ikan dan membungkusnya. Masih dengan tetap mengomel kalau ikan itu terlalu besar untuk dihargai 5 ribu.
    Pertanyaannya, Kalau kita yang jadi pembeli, masihkah mau melanjutkan membeli ikannya?
  2. Ada dua penjual beras, sebut saja namanya Mak Ni dan Mak Ti. Mereka berdua berjualan di tempat yang sama, saling bersebelahan. Mereka saling bekerjasama dalam melayani pembeli. Mak Ti berusia lebih tua, terlihat dari rambutnya yang mulai memutih. Selain berjualan beras, ia juga berjualan lontong sayur.
    Suatu hari, Mak Ni dan Mak Ti menunggu pembeli. Terlihat ada Bu Ani yang sudah jadi pelanggan mereka. Spontan, mereka berdua melambaikan tangan pada Bu Ani menawarkan berasnya. Bu Ani menghampiri mereka. Mak Ni langsung menyambutnya. “Bu, beli berasku saja. Lebih bagus dan putih. Beras yang itu jelek.” Katanya sambil menunjuk beras milik Mak Ti. Mendengar ucapan Mak Ni, wajah Mak Ti pun memerah karena marah. Bu Ani pun terlihat juga kurang senang dengan ucapan Mak Ni.
    “Ya, tapi kan ga boleh mengolok-olok dagangan orang lain. Wong ya sama-sama penjual berasnya. Kata Bu Ani.
    “Iya itu Mak Ni, kurang kerjaan.” Gerutu Mak Ti.
    “Lha guyon Bu. Biasanya kan berasnya Mak Ti kalau ga laku, masih bisa dimasak lontong.” Mak Ni masih membela diri.
    “Berapa harga 5kg?” Tanya Bu Ani. “45 ribu.” Kata Mak Ni. “Sama, 45rb.” Kata Mak Ti.
    “Ya sudah. Bungkuskan 5 kg di Mak Ni dan 5 kg di Mak Ti.” Kata Bu Ani.
    “Loh, koq belinya beras banyak sekali Bu?” Tanya Mak Ni. “Ya terserah aku to. Wong yang beli aku. Biar adil ga ada yang iri. Makanya lain kali, ga boleh berjualan sambil menjelekkan dagangan orang lain.” Kata Bu Ani sambil memberikan uang dan mengambil berasnya.
    Pertanyaannya, kalau kita yang jadi pembeli, masih mau tidak ya, beli berasnya Mak Ni?

Terkait praktik jual beli di atas, dalam Islam ada prinsip yang harus dipenuhi baik oleh penjual maupun pembeli. Prinsip itu adalah “an tarodhin” yang artinya suka sama suka atau rela sama rela di antara penjual dan pembeli. Jadi tak ada paksaan dalam berjual beli.

Adanya “an tarodhin” ini mutlak dalam jual beli. Islam adalah syariat yang menghormati hak kepemilikan umatnya. Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi siapapun untuk memakan atau menggunakan harta saudaranya kecuali atas kerelaan sudaranya, baik melalui perniagaan atau lainnya.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (An Nisa’ 29).

Tidak adanya “an tarodhin” dalam berjual beli, bisa menyebabkan berkurangnya/hilangnya keberkahan dalam barang yang diperjualbelikan atau hasil keuntungan dari jual beli. Oleh karena itu, kita harus berusaha sebaik mungkin agar dalam berjual beli tidak keluar dari prinsip “an tarodhin” ini.

Di masyarakat seringkali ada orang yang membeli sesuatu dengan menawar harga sangat rendah. Setelah dikasihkan harga itu, masih juga meminta tambahan barang saat penjual menyiapkan barangnya. Ada juga penjual yang memberikan sisa uang kembalian dengan alasan tidak ada uang receh atau menganggapnya cuma 200, 500 rupiah dan menggantinya dengan permen.

Jika ini terjadi, maka posisi penjual yang memberikan tambahan barang pada pembeli dan pembeli yang menerima uang kembalian berupa permen seperti di atas, itu adalah kondisi terpaksa. Dalam arti “an tarodhin” yang dipaksakan. Terpaksa mengikhlaskan. Bentuk praktik seperti ini, jelas harus dihindari karena bisa menghilangkan keberkahan.

Perlu diketahui bahwa mengais rizki melalui jual beli, dikatakan oleh sebagian ulama sebagai mata pencaharian paling utama. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Nabi Saw. Dari Rafi’ bin Khadij dia berkata:
“Ada yang bertanya pada Nabi Saw : “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Yang dimaksud dengan “setiap jual beli yang mabrur (diberkahi)” adalah setiap jual beli yang diberi pahala di dalamnya atau secara syar’i, jual beli tersebut adalah jual beli yang sah, tidak ada penipuan di dalamnya, tidak ada khianat dan di dalamnya terdapat kemanfaatan bagi orang banyak dengan menyediakan hal-hal yang mereka butuhkan.

Keberkahan dalam jual beli, selain didapat dari adanya “an tarodhin” antara penjual dan pembeli, juga haruslah bersih dari unsur riba, berbuat curang dan mempersulit orang lain. Nabi Saw berdoa kepada setiap penjual dan pembeli yang senantiasa memudahkan orang lain dalam perniagaannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah Saw bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)

Keberkahan dalam jual beli, diraih Tentu saja dengan mengikuti aturan syari’at yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Sangat mustahil keberkahan itu diraih, namun seseorang tidak memahami aturan jual beli dalam syari’at Islam. Tentu saja aturan-aturan mesti dipelajari dan dipahami sebelum seseorang melakukan jual beli. Tujuannya adalah agar seseorang tidak terjerumus dalam hal-hal yang dilarang oleh agama.

Pentingnya mengetahui ilmu jual beli dalam Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Tholib :

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Sudah seharusnya setiap muslim menjadikan ilmu di depan segala amalnya, agar apa yang dilakukan tidak akan menuai kesalahan.Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yuk, berjual beli yang benar. Caranya, banyak-banyak mengkaji ilmu agama. Perbaiki dulu aqidah dan keyakinan dalam Islam. Kerjakan ibadah dengan benar. Dan pelajarilah bab muamalah termasuk jual beli dengan sungguh-sungguh. Terakhir, terapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik