Berharap Buah Hati

RNB 3 BERHARAP BUAH HATI (Ida Saidah)

Bertahun sudah membangun rumah tangga. Manis cinta direguk bersama. Duka dihalau dengan doa-doa. Tidak terasa pernikahan kami sudah masuk angka dua puluh. Akan tetapi buah hati yang diharap, dinanti-nanti belum juga kunjung tiba.

Di awal pernikahan ketidakhadiran buah hati bukanlah sesuatu yang merisaukan. Ini memberi kesempatan pada kami untuk terus berpacaran. Ya berpacaran pascanikah, sebab pernikahan kami ini melalui perjodohan yang dipertemukan antarteman. Pertemuan yang relatif singkat.

Aku memiliki teman yang senang menjodoh-jodohkan para jomblo, pun suaminya. Mereka seide sejalan. “Sebagai jalan dakwah”, begitu pendapatnya. Setelah dipertemukan dan merasa memiliki ketertarikan, selanjutnya kami diminta menyampaikan visi dan misi membangun rumah tangga. Jika merasa cocok diminta untuk istiharah. Akhirnya kami melapor ke orang tua masing-masing. izin Allah mereka kompak menyatakan setuju. Mudah-mudahan Allah Swt. meridainya, bukan kah hidup ini hanya untuk mencari rida Allah?

Pada saat itu usiaku masuk 24 tahun, sementara calon suami pas 29 tahun. Ia sudah menargetkan sebelum genap usia 30 harus sudah memiliki pasangan hidup. Alhamdulillah, aku menjadi calon istri pilihannya, semoga saja langgeng hingga ke surga-Nya.

Helat pernikahan pun diselenggarakan dengan sederhana. Tamu yang diundang terbatas. Keluarga besar kami hadir memberi restu. Tetangga, teman-teman, dan rekan kerja turut serta menyalami, memberikan selamat dan kado istimewa yang sungguh kami suka. Terima kasih semuanya.

Pascacuti menikah, kami kembali ke rutinitas masing-masing. Suami adalah karyawan di perusahaan penanaman modal asing (PMA). Aku sendiri sebagai guru honorer di satu yayasan.

Rumah yang kami tempati pada mulanya mengontrak. Rumah itu ukuran 100 meter persegi berikut halaman. Dalam waktu tiga tahun akhirnya rumah itu dilepas pemilik, kami pun membelinya.

Rumah sudah punya. Pun perabotan, semuanya lengkap. Ada yang kurang? Di rumah ini belum ada tangisan suara bayi yang baru lahir. Itu inti obrolan di suatu malam. Kami pun keesokan harinya memeriksakan diri ke dokter. Dokter yang kami tuju memberi note untuk cek ke laboratorium. Berdasarkan hasil cek lab, kami dinyatakan sehat. Hanya perlu ketenangan. Mendengar informasi itu, tentu kami bahagia, tinggal menunggu izin Allah Swt.

Sayang izin itu hingga genap 20 tahun pernikahan belum juga jadi milik kami. Padahal kami sudah ikhtiar sebisa dan semampu keuangan kami. Ada yang menyarankan memelihara kucing atau adopsi dulu anak orang sebagai pancingan. Bahkan yang lebih ekstrim ada yang menyarankan ikut program bayi tabung atau program mencari Surrogate mother. Ide gila pikir kami, keuangan kami terbatas. Ada-ada saja, memberi saran sesuaikanlah dengan kemampuan penerima.

Selanjutnya aku meminta suami untuk menikah lagi dengan wanita yang ia sukai. Ia berbinar-binar matanya, senyum sumringah. Hatiku menjerit hingga terdengar ke langit ke tujuh.

Seolah mendengar jeritanku, suami meminta menatap matanya. Aku tidak berani. Aku menunduk. Suami mengangkat daguku. Ia berpesan lirih agar aku tidak sembarangan mengobral kata-kata dan meminta untuk mengingat visi dan misi menjelang pernikahan.

“Yang dicari adalah rida Allah Swt.”
Ia menambahkan bahwa untuk mendapat rida Allah itu tidak wajib memiliki anak kandung. Ada banyak anak yang dapat diasuh, dibesarkan, disekolahkan sehingga mereka dapat hidup mandiri. Dengan cara seperti itu, insya Allah hidup akan menjadi lebih bermakna. Ingat firman Allah berikut

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ “
Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi: 46).

Sejak peristiwa itu aku tidak pernah lagi mengungkit tentang buah hati. Kujalani hidup dengan penuh keikhlasan. Kubuka pintu rumah lebar-lebar. Keponakan dari kampung berdatangan. Rumah selalu ramai, selalu ada cerita, selalu ada tilawah.
Ini bukan berarti berhenti berharap buah hati. Aku terus berdoa untuk memperoleh anak yang tumbuh kembang di rahimku sendiri. Aku tidak mau termasuk golongan orang kafir.

تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.(Q.S. Yusuf: 87)

Sungguh bertolak belakang, di saat kuterus berharap buah hati, di berbagai media muncul berita ibu kandung yang menganiaya anaknya bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Benar-benar biadab. Wahai para bunda sayangilah anak-anak kalian, jangan sia-siakan mereka sebagai titipan terindah dari yang Mahakuasa. Ketahuilah yang belum mempunyai keturunan terus berharap agar segera diberi buah hati.

“Ceuceu tetap sabar ya dengan tingkah buah hati yang selalu dihemo, ini takdir Allah yang harus dijalani, sebagaimana aku menjalani kehidupan untuk tidak berhenti berdoa berharap buah hati di saat usia sudah berkepala empat. Aku yakin, ceuceu termasuk golongan orang yang sabar. Bukankah orang sabar itu kekasih Allah. Ingat firman Allah

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Surat Al Anfal: 46).

Nubar

NulisBareng

Level1

BerkreasiLewatAksara

menulismengabadikankebaikan

Minggu ke-2, hari Jumat, 161020

RNB.085.Jabar

rumahmediagrup