Berawal Menjadi Kambing Hitam, Akhirnya Menjadi Pemenang

Berawal Menjadi Kambing Hitam, Akhirnya Menjadi Pemenang

Judul: Tak Selamanya Kambing Hitam Itu Hitam

Penulis: Ade Tauhid, Sutarti, Nira, Khadijah Hanif, Vita Agung, Siti Rachmawati M., Umbara Almafaaza, Khulil Hasanah, Wina Elfayyadh, Sukma, Siti Nurcahya, Lita Melati Sari, Hidayati, Annur Aliyyu, Isna Aina Hidayanti, Neng Awing dan Nopiranti

Penerbit: CV Rumah Media

ISBN: 978-623-7809-08-1

Event ke-10 Nubar Area Sumatera

Siapa tak kenal istilah “Kambing Hitam”. Uniknya, istilah ini justru bisa dijadikan ide sebuah event Nubar area Sumatera oleh PJ-ku paling ketjeh, Mbak Ade Tauhid. Yuk, simak blurb-nya:

Pernah tidak mendengar istilah KAMBING HITAM? Kambing hitam yang bukan kambing sebenarnya. Kambing hitam dengan tanda kutip? Yaitu orang yang menjadikan  kita sebagai objek sasaran, penderita, dan sebagai pelaku kejahatan yang bukan kita pelakunya. Alias kita cuma dituduh-tuduh doing, dituding-tuding bahkan difitnah. Apalagi kalau tuduhan dan tudingan itu tidak tabayun atau disertai bukti. Pernah merasakan itu? Saat dituduh dan dituding begitu kita jadi tidak berkutik. Disuruh mengaku apa yang tidak pernah kita lakukan. Kesal? Marah? Malu? Mau menangis? Ya begitu deh rasanya.

Serasa jadi kambing hitam yang benar benar hitam. Iya tidak sih? Padahal aku tidak hitam apalagi seekor kambing!

***

Nah, dari blurb-nya aja udah bikin kepo kan? Apalagi kalau menyimak cuplikan beberapa tulisan peserta. Ini dia, kisah dari PJ-nya:

“Pipit berniat kabur dari rumah besok. Rencana itu sudah ada di benaknya sebulan setelah ujian sekolah usai. Gadis itu sudah tidak tahan lagi di rumah ini. Ia tidak kuat dengan Tante Tika yang galak dan Bani adik tirinya yang berandal.

Bagaimana dengan ayah? Selama ini beliau tidak peduli dengan Pipit.  Bahkan beliau jarang pulang ke rumah. Entah apa yang beliau kerjakan setiap hari selepas jam kantor. Hal itu yang membuat Tante Tika jadi sering marah sama ayah dan melampiaskan pada Pipit. Ayah tidak pernah ada buat Pipit. Beliau tidak pernah melindunginya dari kegalakan Tante Tika.

Bahkan ayah pernah ikut memberi dukungan ketika Tante Tika menuduh Pipit mencuri gelang emasnya. Padahal Tante Tika hanya lupa meletakkannya. Gelang itu akhirnya ditemukan di tumpukan buku-buku dan alat make up Tante Tika yang berantakan di meja rias. Ayah atau Tante Tika tidak pernah minta maaf dengan Pipit atas fitnahan mereka.”

(Ayah, Aku Pulang oleh Ade Tauhid)

Ada juga tulisan yang tak kalah menarik lainnya seperti:

“Wajah bayi yang mungil itu sangatlah cantik. Mulai dari bentuk wajah, mata, hidung, dan bibir semua mirip dengan Rani. Masih teringat jelas kalau Rani sangat bahagia ketika dia akan memiliki seorang putri. Begitu pula dengan suaminya Danar. Mereka selalu berkonsultasi dengan dokter dengan teratur. Tak disangka kepergian Rani begitu cepat. Dia tidak sempat melihat putri kecilnya yang sangat cantik. Danar terus-menerus menangis di samping pembaringan istrinya yang sudah menghadap Sang Pencipta. Danar tak henti-hentinya mencium kening istrinya.

Perawat membawa bayi tersebut ke samping Danar setelah dibersihkan untuk dilafalkan azan. Danar tak peduli dengan bayi itu. Danar bahkan membenci bayi yang tak berdosa. Melihat perubahan sikap Danar yang 1800 maka ibu dan ayah Danar langsung meminta bayi itu.”

(Mutiara yang Terlupakan oleh Lita Melati Sari)

Tapi, di antara ke-17 penulis, hanya boleh satu orang saja yang berhak menjadi naskah terbaik. Tentunya lagi-lagi bukan hal yang mudah untuk memutuskan. Tapi kalau teman-teman baca tulisan satu ini, pastinya sangat sepakat, bahwa dialah yang berhak mendapatkan piala, ini dia:

“Rembulan gendut! Jelek! We!” Silih berganti mereka mengejeknya. Tak terima diperlakukan seperti itu, Rembulan melawan. Dia balas menjambak rambut mereka satu per satu. Badan Rembulan memang lebih besar dari anak-anak itu, ditambah adrenalin yang memuncak, jadi dengan mudah para pengganggu itu bisa Rembulan kalahkan.

Dia pun bisa tersenyum menang. Tapi hanya sesaat, karena tawa itu berakhir saat orang tua anak-anak pengganggu itu datang, yang dengan semena-mena saja justru menyalahkan Rembulan. Menyebutnya  sebagai anak nakal, kasar, dan tidak sopan.

Para ibu itu berdengung saja seperti nyamuk yang tak mau mendengar sedikit pun penjelasan Rembulan. Saat wajah Rembulan ditunjuk-tunjuk dan dihujani cercaan, tiba-tiba datang malaikat yang menolongnya.

“Hentikan! Rembulan tidak bersalah! Saya lihat sendiri anak-anak itu yang duluan nyerang Rembulan!” Seraya pasang badan menghalangi para ibu dari menjamah Rembulan, lantang suara pangeran bermata tajam itu terdengar.

(Pelangi Tiga Gerimis oleh Nopiranti)

Nopiranti, pemenang naskah terbaik dalam event “Tak Selamanya Kambing Hitam Itu Hitam”

Selamat ya Mbak Nopiranti, satu kontributorku yang setia mengikuti event Nubar area Sumatera. Tulisan ini memang berhak menjadi naskah terbaik. Luar biasa.

Yang pasti, keseluruhan isi buku semuanya ketjeh, seketjeh PJ dan MA-nya, uhuk. Makanya, cuzz ikutan pesan “Tak Selamanya Kambing Hitam Itu Hitam” untuk bisa menikmati keseluruhan cerita. Bisa langsung hubungi WA saya di 085273642724. Dapatkan bonus kambing berwarna hitam, untuk pemesan terbanyak hingga mencapai harga hewan kurban. Ya kali, ada yang mau berbaik hati, beli banyak buat dibagi-bagi 😀  

rumahmediagrup/emmyherlina

2 comments