Berani Trial and Error?

Berani Trial and Error?

Sudah lumrah bagi manusia bila sudah menemukan “the comfort zone” maka akan cenderung cepat merasa puas. Merasa sudah mencapai sedikit kesuksesan dan kepuasan, maka “stop!” Tidak mau mencoba lagi hal-hal baru lainnya.

Pertanyaannya adalah, benarkah hal itu adalah tindakan yang tepat? Mengingat perubahan dan laju zaman yang bergulir dan perputaran waktu berubah sangat cepat.

Pernahkah kita sedikit saja merenungi, hal-hal luar biasa yang sudah dilakukan oleh orang-orang hebat yang namanya ada dalam rekam jejak tinta emas sejarah? Sebut saja Nabi Muhammad SAW, Muhammad Al Fatih. Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan masih banyak lagi.

Apa yang membuat mereka menjadi orang-orang yang tertulis dalam sejarah peradaban dunia? Apakah dengan hanya berdiam diri? Ataukah dengan berupaya semaksimal mungkin berbuat “sesuatu” meski ada kalanya mereka pernah merasakan langkah kakinya begitu berat karena banyaknya halangan dan rintangan?

Nabi Muhammad SAW. Sejak muda sudah pandai berdagang. Pertama, membantu sang paman. Lama-lama berani memperdagangkan barang orang lain yang bekerjasama dengan beliau. Berdagangnya bukan hanya di pasar setempat, tetapi keluar kota. Walaupun saat itu kendaraan yang tersedia hanyalah unta, kuda atau keledai.

Muhammad Al Fatih. Putra seorang sultan besar. Dari dinasti Usmaniyah yang wilayah kekuasaannya cukup luas hingga ke sebagian daratan Eropa. Calon tunggal pewaris tahta kesultanan Turki setelah kematian kedua kakak kandungnya. Menjalani kehidupan mewah sejak kecil. Tetapi apakah hanya diam berpangku tangan menunggu sang ayah pensiun sebagai raja? Apakah hanya tunjuk sana sini saat akan merebut Konstantinopel?

Albert Einstein dan Thomas Alva Edison. Sempat dicap bodoh saat masih berusia belia. Tapi siapa sangka karena kegigihan belajar dan terus bereksperimen, mampu menciptakan rumus-rumus penting dan penemuan-penemuan yang bisa berguna bagi dunia hingga saat ini.

Kita seringkali belum memulai sesuatu tetapi sudah dibayangi kekhawatiran terlebih dahulu. Bagaimana jika begini? Bagaimana kalau begitu? Bagaimana jika hasilnya tak sesuai harapan?

Kita hanya sibuk dan sibuk. Menghitung kemungkinan-kemungkinan buruk saja. Akibatnya bukannya segera berjalan, tetapi malah stagnan diam di tempat. Tak jua memulai.

Maka, jika ingin membuat perubahan, segera bersiaplah. Mencoba, sekalipun kegagalan akan membayangi. Mencoba, sebab siapa tahu bukan kegagalan yang kita temui, tetapi kesuksesan. Siapa yang tahu?

So, don’t be afraid to be trial and error. Be optimistic, trial and works.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah