Belanja Sayur hemat

Belanja Sayur Hemat

Merasa repot belanja tiap hari? Ingin waktu memasak jadi lebih cepat? Bingung mengatur uang belanja sayur?

Sedari kecil aku selalu melihat ibu berbelanja ke pasar setiap hari Minggu. Ia membeli aneka sayur dan lauk-pauk hanya satu kali dalam seminggu. Dahulu sekali, aku tidak mengerti mengapa harus begitu?

Setelah aku menikah dan masih bekerja, terasa sulit sekali membagi waktu. Pagi-pagi sekali sebelum mentari benar-benar terjaga, aku sudah harus berangkat menjemput rezeki. Ketika mentari sudah kembali ke peraduannya, baru bisa kembali ke rumah. Rutinitas seperti itu membuatku memahami alasan ibu dulu berbelanja sayur seminggu sekali.

Ibu yang juga wanita pekerja, tidak memiliki banyak waktu untuk berbelanja setiap hari. Sama seperti diriku. Maka, jika tidak ingin selalu mengonsumsi makanan ‘beli’, salah satu caranya adalah menjadikan lemari pendingin sebagai ‘pasar sayur pribadi’. Aku mengikuti jejaknya hingga kini—meski sudah bukan lagi sebagai wanita karier.  

Pernah suatu kali ketika harus pindah rumah, sementara barang-barang masih di rumah lama, berbelanja seminggu sekali tidak dapat dilakukan. Aku harus merasakan bagaimana rasanya jika membeli sayur setiap hari. Repot, itu yang paling kurasakan, ditambah hidup tanpa kulkas.

Menunggu tukang sayur lewat di pagi hari, berbelanja, berbasa-basi dengan tetangga, padahal aku sedang diburu waktu. Belum lagi harus membersihkan ikan, menyiangi sayuran, dilanjutkan dengan memasak sarapan. Belum lagi makanan siap, suami sudah harus berangkat. Akhirnya makan pagi terlewat.

Bahan-bahan mentah yang kubeli harus bisa kujaga kesegarannya meski tanpa lemari pendingin. Sayuran yang telah dibeli direndam akarnya, agar kuat sampai agenda masak sore. Ikan, ayam harus langsung dimasak dalam porsi banyak, agar bisa dimakan pagi, siang, dan sore.

Berbelanja tiap hari juga membuatku pusing karena harus memikirkan menu yang akan dibuat. Tak jarang uang belanja yang telah dianggarkan ‘jebol’. Entah karena aku yang tidak terbiasa, atau memang seperti itu dampaknya. Namun, berdasarkan pengalaman itu, aku menyadari bahwa belanja seminggu sekali adalah yang terbaik bagiku.    

Food Preparation di awal minggu (gambar: dok. pribadi)

 Berikut keuntungan belanja sayur yang dilakukan seminggu sekali:

  • Hemat waktu.

Waktu berbelanja yang hanya satu kali dalam seminggu, membuat kita dapat mengalokasikan waktu tersebut untuk melakukan hal lain.

  • Mempersingkat waktu memasak

Sayuran dan lauk yang telah dipersiapkan di awal minggu, membuat kita tinggal mengambil dan mengolahnya, tanpa harus melewati tahapan menyiangi.

  • Tidak pusing memikirkan menu.

Sebelum berbelanja, terlebih dahulu kita sudah merancang menu yang akan dibuat dalam seminggu. Maka, saat akan memasak sudah tidak perlu bingung lagi mau memasak apa. Untuk yang telah terbiasa menggunakan sistem belanja sekali dalam seminggu, malahan dapat bebas bereksplorasi dan menemukan resep baru. Memasak bukan berdasarkan resep, tetapi membuat makanan berdasarkan bahan yang ada.

  • Lebih mudah mengatur uang belanja

Uang belanja dapat dianggarkan dengan jumlah yang konsisten. Mengapa? Karena pada akhirnya kita akan menemukan standar pokok bahan makanan yang harus ada di kulkas, yang dibeli ya itu-itu saja. Namun, tetap bisa membuat aneka masakan.

Akan tetapi, setiap kelebihan pasti memiliki kekurangan. Salah satunya adalah menurunnya tingkat kesegaran bahan makanan, apalagi harus disimpan selama satu minggu.

Bagaimana cara menyiasatinya? Melalui buku Hebat Mengelola Uang Belanja dari Nubar Rumedia, aku menjelaskan secara detail cara food preparation untuk berbelanja dengan sistem satu minggu sekali. Jadi, sobat dapat mempraktikkan sendiri di rumah.

Sstt … Cara belanja ini banyak digunakan oleh para tetanggaku terutama di saat masa pandemi Covid-19. Alasannya adalah karena dapat meminimalkan waktu kontak dan berkumpul gara-gara belanja sayur. Keren, kan!

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum