Belajar Tegar dalam Menghadapi Ujian Kehidupan

Sumber foto: Google

Akhir-akhir ini sungguh memprihatinkan, kita sering mendengar berita duka dari berbagai grup whatsapp. Ada yang terpapar covid-19, autoimun, ada yang meninggal baik keluarga, teman maupun saudara. Keadaan ini sedikit banyak mempengaruhi perasaanku walaupun yang menderita tidak kenal sekalipun.

Sampai ide menulis bertebaran di pikiran tetapi tetap tak terkatakan sepenuhnya. Aku sendiri pernah menderita sakit autoimun yaitu kelainan darah yang mematikan. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya sakit walaupun berbeda. Intinya sama bahwa kalau kita sakit penyebabnya adalah stres dan ketakutan berlebihan.

Dari beberapa kasus teman dan saudara yang konseling denganku, masalah utamanya adalah belum bisa mengolah emosi. Penyebab inner child meledak karena luka batin masa kecil belum sembuh. Luka batin itu tidak bisa sembuh sendiri. Apalagi saat ini ada masalah pandemi sehingga sangat memicu emosi masa lalu yang masih banyak terpendam.

Sayangnya banyak orang belum tahu bagaimana mengatasi kemarahan yang terpendam sejak kecil meledak. Dengan marah, asam lambung pasti meningkat dan daya tahan tubuh menurun, maka masuklah virus. Daya tahan tubuh tidak ada hubungannya dengan berada di rumah atau di luar rumah.

Keadaan parah terjadi pada kita, saat tubuh, jiwa dan roh tidak menyatu. Kebanyakan tubuh di rumah, pikiran melayang keluar karena belum terbiasa dengan perubahan banyaknya pembatasan-pembatasan dari berbagai bidang. Hanya dengan tehnik Acceptance, dimana kita harus mau menerima keadaan di luar kuasa kita.

Syarat kita bisa menerima segala sesuatu yang terjadi adalah harus bisa menerima kelemahan dan kelebihan diri sendiri dulu. Mengatur diri sendiri saja susah, perlu perjuangan apalagi mengatur yang di luar diri. Aku menyadari ujian kehidupan yang terjadi dalam hidupku, memampukanku tegar menghadapinya.

Semua sudah dalam filter Tuhan, yang pasti lebih tahu batas kekuatan kita. Aku sungguh bersyukur setelah berhasil melewati ujian demi ujian, aku merasakan kekuatan baru pemberian Tuhan.

Kita pasti bisa lebih tegar setelah mengetahui kunci utama penyelesaian masalah yaitu berdamai dengan diri sendiri dulu. Pasti lainnya akan mengikuti. Seandainya tidak sesuai harapan pun, kita sudah bisa menerimanya.

Fokus pada pembenahan diri lebih baik daripada fokus pada hal di luar kuasa kita. Semangat berjuang buat para pembaca yang sedang menghadapi ujian kehidupan.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari