Belajar menulis

Menulis. Itu yang disarankan psikolog yang saya temui setahun yang lalu. Sebelum pandemi terjadi. Tulis, apa saja yang dialami dan dirasakan. Istilah kerennya journaling. Kalau zaman saya duduk di bangku Sekolah Dasar, dikenal dengan nulis diary. Diary adalah buku yang biasanya bergambar lucu, disertai gembok dan kunci gemboknya. Isinya bisa juga cerita sehari-hari ataupun biodata teman-teman.

Awalnya, saya masih bingung. Bagaimana menuangkan isi kepala dan menuliskannya. Saya berkonsultasi dengan teman, yang pascasarjananya mengambil jurusan counselor. Teman saya ini menyarankan agar saya menuliskan apa yang terlintas di kepala saat itu dalam waktu lima menit saja. Dilakukan setiap hari. Pas bangun pagi. Alasannya, saat itu, fikiran masih fresh dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga belum dimulai.

Saya yang pernah mengalami gegar otak dan stroke ringan, kesulitan memilih kata. Karena memori saya banyak yang hilang, terpaksa saya instal lagi. Saya belajar lagi dari buku anak saya yang balita untuk pelafalan huruf, menulis dan berhitung. Jadi akibat memori yang hilang itu, saya tidak bisa berhitung. Saat anak saya yang sedang duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar bertanya, “Bu, berapakah enam ditambah tujuh?” Saya tidak bisa menjawab soal itu. Dan saya merasa sangat sedih. Kenapa kecerdasan saya menurun. Di lain waktu, saya baru menyadari bahwa saya tidak bisa runut membuat kalimat. Kadang saya hanya ingat kata kerja saja, lupa subjeknya siapa dan lupa juga tempat atau waktunya. Ini membuat beberapa orang yang saya ajak bicara heran. “Kok kamu bicaranya loncat-loncat.” Itu salah satu komentar lawan bicara saya. Saya nangis. Memang di otak saya, sulit untuk merangkai kalimat utuh dan jelas. Entah kenapa. Namun ketika saya tanya kepada dokter spesialis syaraf yang menangani saya, apa yang saya alami adalah “normal” untuk orang yang menderita stroke ringan. Ya Allah … saat itu saya merasa dunia saya runtuh. Di depan dokter, saya nangis sejadi-jadinya. Saya belum ikhlas kehilangan kecerdasan saya. Pada waktu saya sedang terisak-isak, sang dokter hanya mengusap punggung saya dengan lembut, sambil berujar, “Ibu, memori yang hilang, tidak bisa kembali lagi, karena sel syarafnya rusak. Tapi, ibu bisa instal ulang, apa yang ibu inginkan.” Rasanya nyes banget. Seperti dahaga yang terpuaskan dengan minum air yang sejuk. Dan saya bertanya bagaimana caranya agar saya bisa menginstal ulang ilmu dan pengetahuan tersebut. Beliau mengatakan bahwa belajar dari awal lagi. Kalau tidak bisa membaca, ya belajar pelafalan huruf dan mengeja. Kenapa belajar pelafalan huruf, karena lidah saya kelu. Untuk melafalkan huruf “r” saja, saya perlu latihan berulang-ulang. Untuk menggetarkan lidah mengucapkan huruf “r”. Lalu berhitung, mulai dengan yang mudah dulu, seperti satu ditambah satu dan seterusnya. Begitu pula dengan menulis. Tulis saja yang terlintas di kepala. Apakah itu hanya satu kata, dua kata atau banyak kata. Apakah ada artinya atau tidak. Apakah bisa dimengerti oleh kita atau tidak. Tulis saja dulu.

Sejalan dengan saran dari psikolog, counselor dan dokter syaraf, saya coba untuk menulis. Awalnya selama lima menit hanya beberapa kata yang saya tulis dalam satu atau dua kalimat pendek. Besoknya masih sama. Hingga tiga bulan pertama juga masih seperti itu. Yang sulit untuk saya adalah konsisten menulis pas setelah bangun pagi. Karena ada saja kegiatan yang mengalihkan fokus saya dari menulis. Apalagi saat itu saya sedang berjauhan dengan suami. Otomatis saya sendirian mengurus empat orang anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Meskipun begitu, tiap bulan saya setor tulisan saya ke counselor. Ketika dibaca olehnya, ternyata, apa yang saya tulis adalah sumpah serapah. Kekesalan dan amarah saya. Kekecewaan dan bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup tertuang di sana. Perlu waktu hingga enam bulan bagi saya untuk menguras ransel emosi negatif. Butuh lebih dari enam buah buku tebal, seukuran buku tulis, yang saya perlukan untuk menuliskannya. Setelah semuanya terkuras, saya mulai bisa menulis hal yang baik. Hal kecil yang saya rasakan sebagai anugerah. Seperti, saya yang sudah mulai bisa konsisten menulis, anak-anak yang mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya bahkan saya bisa merasakan hikmah dari gegar otak yang saya alami.

And here i am. Writting in this page. Trying to release my emotion.

Wawang Yulibrata