BELAJAR DARI MEREKA

BELAJAR DARI MEREKA

Tulisan ini mengandung pesan khusus untuk anak-anak perempuanku baik anak biologis maupun anak ideologis sebagai tanda sayang ummi pada kalian.

Anak-anak salehah,
Perbanyaklah bersyukur karena Allah telah melimpahkan kenikmatan yang sangat banyak untuk kita. Jangan pernah mengeluh dengan apa pun kondisi yang kita alami. Bersabar jika ada kondisi yang belum sesuai harapan dan terus bersyukur dengan meningkatkan takwa setiap saat.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

(Q.S. At-Tin: 4)

Jadi, berhentilah merasa minder karena tinggi kurang ideal, berat badan sedikit berlebih, kulit yang tidak glowing. Stop menjadikan mereka yang ada di televisi sebagai bahan perbandingan. Bisa jadi kecantikan yang mereka tampilkan di layar adalah hasil polesan dengan biaya yang sangat fantastis.

Jangan jadikan fisik sebagai alasan untuk kamu tidak produktif. Genggamlah Al-Qur’an dalam jiwamu. Jadikan ia sahabat sejati yang kelak bahkan akan turut menemani saat kamu sedang sendiri dan jasadmu telah terhimpit bumi.

Bukalah matamu, banyak sekali yang bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya. Mereka yang dengan keterbatasan fisik tetapi begitu mencintai Al-Qur’an. Bahkan, dengan kerasnya usaha, mereka mampu menghafalkan Al-Qur’an.

Mari kita sama belajar dari beberapa guru kehidupan, seperti
Mutmainah. Seorang anak yang berasal dari Dusun Tanah Anyar, Desa Alas Malang, Kecamatan Situbondo. Dia adalah seorang penyandang disabilitas, namun, di tengah keterbatasan fisik, mampu menghafal Alquran 30 juz.

Masih segar dalam ingatan juga Fajar Abdurokhim Wahyudiono, seorang yang secara kasat mata tak akan mungkin bisa menghafal Al-Qur’an, tetapi ternyata Fajar mampu menjadi hafiz di tengah terganggunya fungsi otak dan jaringan sarafnya sejak lahir. Maa syaa Allah.

Selain Fajar, ada juga Muhammad Naja Hudia Afifurrohman. Seorang anak yang berasal dari Mataram, walaupun diberikan ujian kelumpuhan otak namun mampu menjadi hafiz dalam usianya yang masih 9 tahun.

Kalau hatimu masih belum tergerak juga, coba sesekali berkunjung ke Raudlatul Makfufin di daerah Buaran, Serpong. Di sana, mereka yang tidak Allah berikan kenikmatan berupa penglihatan, namun tidak menjadikan kekurangan fisik mereka mengeluh atau pasrah dengan keadaan. Di pesantren itu terkumpul banyak para tuna netra yang sedang belajar dan menghafalkan Al-Qur’an Braille dengan penuh semangat.

Jadi, tidak ada alasan fisik sebagai penghambat kamu menebar manfaat kepada orang lain. Osep Rohyana, ustaz penyandang disabilitas Pondok Pesantren Al Kautsar, Banjar, Jawa Barat mampu melahirkan hafiz-hafiz Alquran di tengah ketidak sempurnaan fisiknya.

Lantas, apa lagi yang membuat kamu enggan bersyukur? Mereka saja bisa memaksimalkan potensi yang terbatas mereka miliki, seharusnya kita yang tak memiliki keterbatasan fisik lebih maksimal lagi.

Yuk ah! bangkit! Jangan mager terus. kamu harus buktikan bahwa kamu bisa menjadi manusia yang membanggakan kedua orang tua dan membanggakan Indonesia dengan potensi yang kamu miliki saat ini. Semangat menghafal Al-Qur’an sebelum dan menjadi hafizah adalah hal yang utama sebelum mempelajari ilmu yang lain.

Semangat mondok ya, Salehah!

Terakhir, untuk sahabat-sahabat yang Allah uji dengan kondisi disabilitas, tetap semangat dan tegar menghadapi semua. Happy World Disabled Day!

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day3
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup