BEDAH BUKU “ADA CINTA DI TIAP AKSARA” dan “MI FAMILIA”

Acara bedah buku diselenggarakan melalui zoom meeting. Ada sekitar lebih dari 30 orang peserta saat itu. Senin malam yang luar biasa bagi saya.

Acara dimulai dengan saling sapa sambil menunggu Pak Zam selaku moderator acara hadir. Maklum saja, waktu yang cukup mepet dengan waktu salat Isya’ membuat peserta pria agak lambat sedikit. Ketika moderator sudah hadir, acara pun segera dimulai.

Mba Emmy, sebagai manager area Sumatra, membuka acara sharing. Dijelaskan secara gamblang, apa saja yang ada di Rumedia. Jelas bukan hanya event antologi saja tapi juga ada SBMB (Sehari Bisa Menulis Buku), website, medsos bahkan kita bisa menikmati membaca buku-buku Rumedia melalui e-book yang ada di google play store.

Mba Emmy juga menjelaskan asal muasal ide kedua buku ini, yaitu dalam rangka milad Pak Ilham dan tentu saja milad Mba Emmy sendiri. “Ada Cinta di Tiap Aksara” sesungguhnya melambangkan kecintaan akan dunia literasi. Sedangkan “Mi Familia” melambangkan cinta keluarga. Sungguh event yang penuh cinta ya?

Giliran berikutnya adalah Mba Rhea, sebagai manager area Jawa Barat, untuk sharing. Mba Rhe sedikit memaparkan tulisannya di buku ” Ada Cinta di Tiap Aksara”, yaitu tentang mitos seputar menulis. Ada 4 hal yang dibahas saat itu, padahal di buku ada 10 poin yang Mba Rhea jabarkan. Sungguh ini membuat saya sangat ingin memiliki bukunya.

Setelah Mba Rhea, disambung oleh Mba Rere yang selain sebagai manager area luar negeri juga sebagai penulis di “Mi Familia”. Mba Rere menampilkan monolog dan sedikit menceritakan isi tulisannya. Cukup menarik buat saya, cerita yang natural dan dan biasa terjadi di lingkungan rumah saya.

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Mba Endah. Selain memaparkan tulisannya, Mba Endah juga memberikan tips dan trik seputar menulis. Sebagian kalimatnya sedikit banyak memberikan motivasi bagi saya.

Lalu giliran Teh Wawang yang menceritakan pengalaman hidupnya yang luar biasa, yang melatarbelakangi asal mula terjun ke dunia kepenulisan. Sangat menginspirasi sekali karena pengalaman gegar otak di tahun 2019 membuat Teh Wawang kesulitan dalam merangkai kata. Namun sekarang ia berhasil menjadi salah satu penulis terbaik. Sungguh ini membuat saya semakin terpicu untuk terus belajar lagi.

Mba Santi juga salah satu penulis terbaik, ikut berbagi kisah pengalamannya. Sungguh luar biasa, baru pertama menulis langsung mendapat piala. Ah, makin merasa bahwa diri ini belumlah apa-apa.

Terakhir, Pak Ilham diminta untuk sharing juga. Saat itu, Pak Ilham menceritakan awal mula menulis justru membuat puisi yang sebagian isinya mengambil dari lirik lagu Malaysia. Digabungkan dari beberapa lagu lalu dirubah sedikit, dikumpulkan jadilah sebuah puisi yang berhasil membuat Pak Ilham menjadi juara.

Pak Ilham juga bercerita tentang antologi pertamanya yang berisi 10 cerpen. Antologi dari dua orang penulis, yaitu Pak Ilham dan Pak Deejay. Masing-masing menuliskan 5 cerpen.

Selanjutnya dipaparkan juga sejarah Nubar. Berawal di tahun 2015 pada bulan Oktober, dibuatlah 21 PK (Penulis Kreatif), kemudian berubah menjadi PMB (Project Menulis Bersama) hingga akhirnya menjadi NuBar (Nulis Bareng). Nama yang terus bertahan sampai sekarang.

Selain sharing juga ada acara tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat dari pertanyaan yang muncul di sepanjang acara melalui kolom chat. Alhamdulillah, semua berhasil dijawab dengan jawaban yang memuaskan.

Dua jam sudah berlalu, acara harus berakhir mengingat waktu semakin larut, apalagi bagi Mba Rere yang zona waktunya berbeda dan lebih awal. Tentu di sana sudah sangat larut.

Acara berakhir, memberikan kesan tersendiri khususnya bagi saya yang masih sangat baru di dunia kepenulisan. Namun kehangatan terus berlanjut melalui percakapan di WAG. Ah, senangnya menemukan keluarga baru.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie