BDR OH BDR

Sekitar setahun lebih sudah anak-anak sekolah menjalani BDR. Banyak suka duka yang mereka rasakan, begitu pula dengan yang ibu rasakan. Mulai dari mendampingi, menyiapkan pasokan cemilan yang lebih banyak dibanding hari biasanya bahkan jika perlu membangun kembali mood kesayangan yang bisa tiba-tiba drop di tengah ritual BDR.

Apa saja sih yang bisa bikin mood mereka drop? Ada yang sedang kurang sehat tapi harus segera menyelesaikan tugas-tugas. Merasakan kepala pusing tapi masih harus berpikir lagi, bukanlah suatu keadaan yang menyenangkan. Ada juga masalah gawai yang kurang memadai. Bagi yang anaknya lebih dari satu tentunya membutuhkan perangkat lebih demi mendukung kelancaran proses BDR. Mau tak mau, BDR itu memiliki waktu yang terbatas. Mulai di jam yang sama dan berakhir di jam yang sama pula.

Nah, karena kekompakan itu pula kadang menimbulkan masalah klasik, signal. Ya, signal menjadi rebutan. Kadang saat sedang loading tugas, klik tombol submit, berputar tiada henti untuk selanjutnya hilang, gagal submit. Ulang lagi, terus begitu, berulang. Kalau itu tugas harian mungkin tidak terlalu membebani tapi kalau pas ujian? Waktu habis percuma, hanya untuk mengurusi submit yang gagal hingga akhirnya waktu habis dan berujung pada keputusan, “Kamu tidak ikut ujian. Silahkan susulan pekan depan.” Itu nangisnya guling-guling kayak apa. Ngenesnya ngalahin antri masuk tapi nomornya habis tepat pada orang yang di depan kita.

Bersyukurnya untuk masalah klasik satu lagi, sudah ditangani oleh pemerintah, yaitu masalah kuota. Setiap anak bisa mendaftarkan nomor ponselnya untuk mendapatkan kuota pelajar, gratis.

Ada lagi nih, hal yang bisa membuat mood anak merosot drastis. Yaitu tugas yang memerlukan recording. Baik itu berupa video maupun audio. Terlihat simple, rekam, kirim, selesai. Eits, tidak semudah itu Ferguso! Kenapa? Karena, dalam proses recording itu membutuhkan suasana yang sepi, kalau bisa tidak ada kebocoran suara dan juga tidak ada gambar yang mengganggu (kalau video).

Sebagai contoh kegagalan saat recording :

Take 1 : Tiba-tiba ada yang ajak bicara, tidak tahu kalau lagi rekaman.

Take 2 : Kalau gak diajak bicara, ada saja yang ngobrol di sekitarnya, masuk pula suaranya.

Take 3 : Tetangga tiba-tiba karaoke dengan suara yang sangat kencang.

Take 4 : Tukang sayur lewat.

Take 5 : Motor lewat.

Take 6 : Notifikasi ponsel bunyi.

Take 7 : Notifikasi ponsel mama bunyi juga.

Take 8 : Suara tiba-tiba serak, udah kebanyakan ngomong.

Take 9 : Tukang ngamen yang pakai sound system dengan suara yang kencang, pas ngamen di rumah tetangga yang terbuka pintunya.

Take 10 : Lagi asyik rekaman, lancar, jadi agak terburu-buru sedikit karena takut ada gangguan lagi. Eh, malah ngomongnya belibet.

Take 11 : Ada suara anak nangis di jalan.

Take 12 : Di tengah-tengah rekaman lupa apa yang mau diomongin.

Terus berlanjut hingga mencapai rekor 30x take.

Tugas ibu, kembalikan lagi moodnya plus tenaganya karena mau tidak mau pasti lelah, mengulang berkali-kali seperti itu. Kalau aku, langsung aku tertawakan saja semua gangguan itu. Kadang hal yang menyebalkan tidak terasa menyebalkan kalau kita menganggapnya itu hal yang lucu.

Alhamdulillah, efektif. Ya, akhirnya kami berdua cuma tertawa-tawa gak jelas karena mendapatkan hiburan gratis di siang hari. Hey, jangan keasyikan! Ingat, durasi.

Alhamdulillah, akhirnya tugas dapat terkumpul tepat waktu. Cara mensiasatinya, segera kerjakan tugas begitu link nya sudah keluar sehingga jika ada hal-hal yang tidak diinginkan bisa diatasi tanpa membuang waktu. Semangat terus untuk anak-anak Indonesia. Semangat juga bagi para pendamping BDR. Jangan lupa bahagia ya!

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie