BAYANGKAN

Rasa sakit yang terabaikan, atau di anggap tak pernah ada. Hanya di cari ketika dibutuhkan, di ajak berdiskusi sekiranya sedang dalam tahap kesepian, tak ada teman, mungkin juga ketika tak ada kegiatan.

Bertumpuk kian menjadi ratus lapisan, hingga larut termakan usia. Yang ada kini hanya rasa ter’ manfaat kan. Sebegitu nya?

Hei… Insan mana yang bisa hidup sendiri? Hanya berteman kan angin dan daun yang melambai?

Coba kau rangkul, kau peluk. Katakan bahwa semua baik-baik saja. Katakan bahwa aku ada di sini untukmu.

Katakan… Utarakan…
Sehingga tak merasa terabaikan.

Apakah mungkin memang di anggap “ada” ketika waktu di perlukan? Tak peduli seberapa banyak kebaikan dan ketulusan yang tak bermodus sama sekali?

Coba kau pejamkan mata, bayangkan menjadi dirinya, seberapa besar kecamuk dalam hatinya.

Bukan gundah gulana, bukan kesedihan, bukan pula rasa iba. Hanya saja dia ingin kau mengerti, bahwa dia “hidup” ada di sini.

Jangan kau kedepankan ego dan sombongnya dirimu, itukah moral mu?

Tuhan saja bisa murka, tentu ia juga.
Tuhan saja tak mau di dua kan, apalagi manusia.

Kita bisa kecewa dengan dunia, tapi tak ada gunanya. Karena dunia akan terus berputar, meski kita tidak bergerak.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu