Bapakku Suka Marah-Marah

Berbeda dengan sifat mamak yang lembut bak kain sutra, sebaliknya bapak lebih suka marah-marah. Bukan tanpa alasan. Sikap marah-marah bapak disebabkan penyakit maag yang dideritanya sejak masih bujang.

Beliau seorang yang perfeksionis dalam melakukan setiap aktivitasnya. Namun akibat penyakitnya yang seringkali kambuh, beliau hanya bisa mengawasi anak-anaknya untuk bekerja di sawah atau ladang. Aktivitas yang berat tidak mampu lagi ia kerjakan. Padahal jadi petani adalah pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra.

Misalnya saja membawa kerbau untuk membajak sawah. Beliau tidak sanggup lagi. Ia selalu meminta bantuan abang-abang untuk membajak sawah. Pekerjaan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, disitulah ia marah-marah. Ia hanya bisa memerintah karena raganya tidak kuat lagi.

Namun berbeda ketika berada di rumah. Beliau secara rutin menanyai kami satu persatu, apakah sudah makan atau belum. Tidak hanya itu, beliau juga sangat memperhatikan menu makanan yang disajikan mamak. Setiap hari harus ada sayur di meja makan.

Dalam hal beribadah, beliau tidan pernah ketinggalan. Beliau patut dijadikan teladan oleh kami anak-anaknya.

Minggu sore, beliau menyempatkan minum kopi di warung di desa sambil bersenda gurau dengan teman-temannya. Beliau biasanya meminum kopi sambil menikmati gorengan atau roti. Camilan tersebut sengaja disisihkan di kantong celananya lalu diberikan kepada kami.

Meski hanya beberapa bagian, beliau bisa membagikan secara rata kepada kami semua. Meski sedikit harus semua merasakan. Begitu kata beliau. Setiap beliau menuju ke warung, hal itulah yang paling kami tunggu-tunggu.

Hingga suatu hari, ketika Siti masih kelas dua sekolah dasar, bapak meninggal dunia. Kami sangat kehilangan beliau. Meski sering marah-marah tapi kami tahu bahwa kasih sayangnya jauh melebihi itu. Hanya saja caranya berbeda dari yang lain.

Kehilangan sosok bapak sejak kecil tidak membuat Siti dan saudaranya lantas berkabung terus-menerus. Hidup harus terus berjalan. Mamak butuh dukungan dari semua anaknya. Untungnya abang-abang Siti bisa mengerti perasaan mamak.

Ketika harus mengerjakan pekerjaan laki-laki, abang-abang Siti dengan sigap membantu mamak. Dan Siti baru paham seolah-olah bapak sudah mempersiapkan ini semua. Dia pergi ketika semua laki-laki di rumah kami bisa mandiri sehingga mamak tidak perlu bersedih terlalu lama.