Bangkitlah, Jangan Hanya Merengek

Bangkitlah, Jangan Hanya Merengek

Sebuah tema menulis yang sulit untuk kujabarkan. Hampir satu minggu mencoba berkali-kali merajut kata. Hapus-ketik, begitu saja. Hingga pukul 01.45, akhirnya kuhapus semua.

Bukan tidak berani mengungkap kelamnya sisi lain hidupku. Penyiksaan demi penyiksaan yang dialami saat kecil itu begitu menyakitkan, baik psikologis maupun fisik, hingga tidak ingin kuingat dan bagikan. Cukup satu naskah dalam antologi Nubar Rumedia “Lukaku” telah mencuci bersihkannya.

Saat itu, aku telah bertekad untuk menerima semua luka di masa lalu. Bangkit dan memaafkan semua yang berkaitan di dalamnya. Menutup rapat dan menjahit tiap robekan dari hati yang tersayat. Kemudian, menata kembali hidupku yang entah berapa lama lagi ada di bumi ini.

Perjalanan untukku bangkit bukan hal mudah. Sebuah langkah panjang untuk memulihkan diri sendiri. Hanya pada Tuhan saja tempat bergantung dan berpegangan. Bukan psikiater, bukan pula hal lain. Hanya antara aku dan Sang Pencipta. Mencoba mencari hikmah yang Dia selipkan dari tiap ujian-Nya, lalu belajar bersyukur dan menerima.

Tidak ada kata ‘semesta mendukung’, karena di dalam agama yang kupercayai hanya ada Tuhan yang memiliki segala ketentuan. Jika kita bersungguh-sungguh, maka Dia yang akan membukakan pintu-pintu rezeki dan kemudahan, bukan alam semesta yang merupakan ciptaan-Nya. Maka, setiap manusia yang telah terpuruk maupun sedang terpuruk, pasti akan mampu bangkit asalkan percaya dan menyerahkan segalanya pada Sang Khalik.

Dendam dan benci hanya akan menggerogoti, tetapi maaf akan mampu memulihkan. Penolakan akan segala ujian dan keadaan yang kita terima hanya akan membawa ke jurang. Sedangkan rasa syukur yang terus-menerus akan membawa pada pintu cahaya lain.

Setelah berpuluh tahun berjibaku dengan luka dan diri sendiri. Di sinilah aku sekarang, mencoba bangkit dan berlari mengejar ketertinggalan dalam kehidupan. Bertafakur dalam kebencian membuatku hanya kelelahan tanpa ada satu senti pun perpindahan.

“Berada dalam kubangan penyesalan, kekecewaan, dan merasai luka hanya menyia-nyiakan waktu. Bangkitlah! Sebab kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita hidup.”

Asri