BANG UDIN PELUKIS ASAL PURBALINGGA

Untuk mengenang sosok pahlawan nasional asal Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Usman Janatin, Pemkab Purbalingga mengabadikannya sebagai nama taman kota. Pemberian nama itu sekaligus sebagai upaya mengenang nama pahlawan asal Purbalingga yang gugur di Singapura dengan cara digantung. Taman kota yang semula eks lahan pasar kota tersebut diresmikan pada tanggal 29 Juni 2010 oleh
Bupati Purbalingga pada saat itu, Drs H Triyono Budi sasongko, M.Si. Nama Usman Janatin dipilih karena dianggap sebagai sosok yang gigih dalam membela nama bangsa Indonesia pada masa Dwikora.
( Sumber Google)

Pertama kali aku tahu ada taman kota di daerah Purbalingga, biasa di gunakan untuk acara kesenian dan acara besar lainnya. Melukis bareng seniman pelukis se-Kabupaten Purbalingga, awalnya aku hanya menemani adikku Bagus, kebetulan Bagus hobi menggambar. Di kenalkan nya kami ke para seniman oleh sahabat tercinta Mas Gendhon.
Mas Gendhon inilah yang banyak berkontribusi di dalam perkenalanku dengan Bang Udin dan Bang Yosh.
Mas Gendhon dan Bang Udin banyak relasi nya. Dari pelukis abstrak, surealisme, naturalisme, realisme, hiperrealisme dan masih banyak lagi. Aku takjub akan bakat mereka, meski aku sendiri payah dalam hal menggambar, apalagi membuat sketsa.
Ahh … Angkat tangan pertama aku. Ha-ha-ha.
Orang yang dikenalkan pertama kali padaku adalah Bang Udin lalu Bang Yosh. Mereka baik, ramah, murah senyum. Meski kesan pertama yang aku tangkap gak banget, penampilan beliau sangar, seram dan terkesan galak. Ternyata aku salah. Rambut gondrong, bertatto bukan berarti angker. Nyatanya mereka welcome dalam hal berdiskusi. Aku dengan segala rasa ingin tahuku, mereka jawab dengan antusias.
Bang Udin yang aku kenal, berperawakan sedang, kurus, rambut gondrong dan bertatto. Bisa di bayangin kan seniman banget. Dia pandai melukis, ah itu sudah bakat rupanya.
Ku tanya mengapa senang melukis, simple jawabnya. Karena suka, hobi dan menghasilkan. Berawal dari seniman tatto, ia hijrah ke Bali bersama rekannya Bang Iskak, berbekal modal nekat dan cerita bahwa di Pulau Dewata lebih menggiurkan dan menggoda untuk hobi yang menghasilkan. Alat yang di bawa masih sangat standar, ala kadarnya dan jauh dari kata modern. Alat dinamo bekas VCD player, sendok dipotong untuk dudukan dinamo, tinta rotring, merek Tinta Rapido. Jadilah mereka pengamen tatto di Litte, sebuah kawasan di pulau Dewata.

Tubuhnya yang penuh gambar tinta, adalah saksi bisu perjalanan Bang Udin. Saat itu kisaran harga yang ia patok sekitar Rp. 100 ribu sampai 200 ribu rupiah. Untuk tahun 1998 mungkin sudah lumayan. Dari warga lokal sampe bule pecinta tatto pernah beliau lukis.
Untuk membuat gambar pertama memakai jarum biasa, kemudian di sketsa, gambar design bisa request, selanjutnya pewarnaan jarum tiga untuk ngeblok pewarnaan, diolesi minyak untuk luka, supaya cepat kering. Isolasi buat jaga-jaga biar gak terkontaminasi, saat itu tahun 1998 belum menggunakan plastik.
Pernah suatu ketika, ada warga asing asal Australia, permintaan untuk menggambar di tubuhnya, melihat peralatan yang ada kaget dong. Yah, namanya juga modal seadanya. Bule itu di tatto dengan gratis tanpa biaya, sebagai gantinya Bang Udin diberi hadiah alat tatto yang modern. Win- win solution lah.
Dua tahun di Bali, beliau akhirnya rindu akan kampung halamannya. Dan akhirnya memilih pulang kembali ke Purbalingga.
Merasa kurang cocok untuk mata pencaharian, beralihlah ke airbrush, setelah mendalami dunia tatto tahun 2000.
Setelah beliau sekian lama menjalani profesi pelukis airbrush, kemudian ingin mencoba hal baru. Beralihlah Bang Udin ke media kanvas.
Menjadi pelukis profesi yang ia jalani sampai saat ini. Banyak karya yang beliau torehkan, termasuk pada acara Kesenian di Usman Janatin kala itu. Aku menyaksikan dengan heran, hanya kuas yang di coret asal, tapi hasil yang di suguhkan sungguh diluar dugaan.

“ Bang, bisa gak aku ngelukis kaya gitu ? “
“ Asal ada kemauan dan kemampuan Mbak, konsisten dan mau belajar.”
Sungguh tak hanya melukis, setiap peran dan pekerjaan memang butuh kesabaran dan konsistensi. Aku mulai tertarik dengan dunia beliau, bisa mengekspresikan emosi lewat gambar, sama halnya dengan menulis.
Aku banyak belajar. Terimakasih Bang Udin sudah memberikan inspirasi dan pelajaran hidup, bahwa tak selamanya kopi itu pahit.

That what you believe, do with all your heart .

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu