Balada Anak Pemalu Yang Jadi Guru

Aku adalah seorang gadis yang lugu yang manja dan pendiam, aku selalu menghabiskan waktuku lebih banyak dirumah dari pada berkumpul dengan teman- temanku. Kawanku dari dulu juga tak banyak, mulai dari SD sampai dengan tamat kuliah, paling banyak temanku hanya 3 orang. Dalam keseharianku, lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku dan merawat tanaman bungaku dihalaman rumah.

Waktu cepat berlalu, sekarang aku harus menerima kenyataan kalau Papaku lebih cepat meninggalkan dunia yang fana ini, karena sakit stroke. Papa meninggalkan kami semua saat kami sangat butuh kasih sayang dari figur seorang ayah, sementara Mama yang berprofesi sebagai guru harus bolak-balik mengajar dengan jarak tempuh yang lumayan jauh dari rumah kami. sehingga Mama harus berangkat dari rumah pada subuh hari dan pulangnya menjelang senja, bahkan pernah Mama pulang sudah malam saat adik-adikku telah terlelap dalam tidurnya, karena terlambat dijemput Papa. Tapi itu disaat Papa masih bersama kami, Papa bisa antar jemput Mama ke sekolahnya. Semenjak Papa telah tiada, Mama dibebaskan tugas sementara oleh kepala sekolahnya karena melihat kondisi kami yang tidak memungkinkan karena masih sedang berduka. Melihat kami masih kecil-kecil, banyak orang yang tidak tega dan menahan kesedihan mereka didepan kami 9 bersaudara.

Saat itu umurku baru 23 tahun, aku baru saja menyelesaikan studiku di salah satu kampus swasta dengan predikat cumlaud, walaupun banyak rintangan dan tantangan yang harus kutempuh selama aku menyelesaikan skripsiku tapi alhamdulillah semua bisa kulewati dengan baik. Sementara adikku yang nomor 2 baru semester 5 Jurusan Keperawatan fakultas Kedokteran, dan adik-adikku yang lainnya masih bersekolah.

Banyak hal yang patut aku syukuri dalam perjalanan hidupku, akhirnya aku bisa mempersembahkan ijajahku kepada kedua orang tua dengan hasil yang sangat memuaskan yaitu menjadi wisudawati dengan predikat lulusan terbaik jurusan Sistem Komputer. Dengan adik yang banyak, gaji Mama hanya cukup untuk memenuhi makan kami sehari-hari, karena sudah meminjam Bank untuk membangun rumah, papa bekerja sebagai kepala desa di kampungnya, itupun beliau hanya menerima gaji yang waktu itu cuma Rp. 150.000, tetapi kami semua tidak pernah mempermasalahkan hal itu apalagi Mama, yang penting kami selalu hidup berbahagia, walaupun makan seadanya.

Aku ingat saat itu, papa memyuruhku pulang dari Batam karena kampus didekat kampungku membuka program akta IV untuk bisa menjadi guru dan menurut Papa aku tidak cocok kerja di Batam lebih baik menjadi guru saja kata beliau. Setelah tamat dari kuliah, aku langsung pergi ke Batam untuk melamar pekerjaan disana, tetapi aku tidak ditakdirkan menetap di sana karena saat jadwal wawancara, tiba-tiba aku sakit dan dilarikan oleh om ku ke rumah sakit. Aku teringat langsung apa kata Papa, aku langsung pulang setelah aku sembuh, dan pulang jembali kekampungku. akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti saran Papa, mengambil program akta IV karena latar belakang pendidikanku bukan keguruan, jadi harus mengambil Akta IV terlebih dahulu baru bisa menjadi guru. Walaupun itu sangat bertolak belakang dengan keinginanku dan aku merasa sangat tidak cocok kalau menjadi guru, karena aku orangnya pendiam.

Selang waktu berlalu, aku menyelesaikan program studiku yang kujalani selama 1 tahun, setelah itu aku ditawarkan oleh kepala sekolah SD kenalan Papa untuk mengajar Bahasa inggris disekolahnya, dengan bekal ilmu yang aku peroleh aku mengajar disana dengan modal yang sangat minim, walaupun awalnya aku sangat kikuk tapi lama kelamaan aku merasa senang mengajar dan memberi ilmu kepada mereka. Beberapa bulan setelah itu aku memasukkan lamaran di SMP dekat rumahku untuk mengajar Komputer, alhamdulillah aku diterima juga disana.

Akhirnya dengan latar belakang kehidupan ekonomi kami yang sudah mulai terseok-seok, serta demi meringankan beban Papa dan Mama karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, akhirnya aku menjalani kehidupanku menjadi seorang guru seperti Mamaku dengan sangat meyakinkan sehingga tidak terasa aku malah merasa senang menjalaninya, dan berangsur-angsur sifatku yang pendiam mulai berubah karna harus sering berkomunikasi dengan siswa,dan aku juga harus berkomunikasi dengan teman sejawatku yang lain biar tidak dicap sombong.

Tepat tanggal 6 Februari 2006, Papa dipanggil Allah SWT, karena sakit stroke yang beliau derita selama 8 bulan, Aku sempat merawat beliau selama 1 bulan dirumah sakit saat Papa mengalami pendarahan diotak mendadak sehingga divonis dokter kalau papa mengalami stroke dan mengalami kelumpuhan dibagian tubuhnya yang sebelah kanan. kami semua ikhlas melepas beliau, Mama dan kami anak-anaknya semua tidak ingin melihat Papa menderita lagi didunia ini, kami semua hanya berharap semoga Papa ditempatkan disisi Allah dan bahagia disana.

Saat teman-teman Papa melayat kerumah kami, ada teman Papa yang menawarkan kepada Mama, agar aku honor di SMA yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku dan kebetulan guru komputernya tidak ada yang berlatar belakang pendidikan jurusan Komputer, tanpa berpikir panjang aku langsung menyanggupi tawaran itu dan besok harinya aku langsung honor disana, seminggu setelah kepergian Papa aku ikut tes CPNS, alhamdulillah aku lulus dan terhitung tanggal 1 April 2006, aku menerima SK yang kebetulan penempatanku sama dengan tempat dimana aku honor di SMA yang sama.

Pada saat aku menjadi guru CPNS, aku sangat sibuk mondar mandir mengajar di SD, SMP dan SMA sekaligus, sehingga waktuku tak banyak kugunakan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sejawatku, sehingga aku dianggap kuper alias kurang pergaulan dan sangat sombong menurut mereka. tetapi setelah aku jelaskan kalau aku mengajar sebanyak 40 jam seminggu, jadi harus bolak balik kesana-kemari, baru mereka paham.

Awalnya terasa sangat berat bagiku hidup ini, tetapi setelah kujalani dengan tulus dan ikhlas sebagai kakak tertua dari 9 bersaudara dan sekaligus ku niatkan untuk membantu Mama, semuanya terasa ringan dan mengalir saja, ini semua juga berkat ajaran dan nasehat dari Papa kepada kami anak-anaknya agar selalu saling membantu antara adik-beradik baik dalam suka maupun duka. Apapun kondisinya jangan sampai hubungan silaturahmi kami adik-beradik pecah gara-gara hal sepele, karena semuanya bisa diselesaikan dengan musyawarah.

Tidak terasa sekarang sudah Tahun 2020, Mamaku sudah pensiun dan aku juga sudah bekeluarga, alhamdulillah aku sudah sertifikasi dan menjadi guru profesional. Sumiku tercinta sangat paham dengan kondisi dan latar belakang kehidupanku dengan saudara yang banyak sehingga dia mengambil alih peran Papa untuk jadi kepala rumah tangga sekaligus imam bagi diriku dan juga adik-adikku. Suamiku tidak dianggap sebagai menantu di keluarga besarku tetapi sudah jadi anak sekaligus menantu kebanggaan didalam keluarga besar kami terutama oleh nenekku, beliau sangat sayang sekali kepada suamiku, melihat kegigihannya selama ini membantu adik-adikku dan keluarga besar kami baik dalam suka maupun duka.