Balada Emak, WFH, dan LFH

Balada Emak, WFH, dan LFH

Hikmah lain yang bisa saya rasakan dari dampak masifnya virus COVID-19 adalah bisa work from home alias mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Anak-anak juga bisa learning from home. Jadi kita semua tetap beraktivitas di dalam rumah.

Si sulung saat dapat lampu hijau untuk bisa LFH juga segera kita jemput. Ada yang mengatakan anak di pondok sudah terkarantina otomatis dan insya Allah malah lebih aman karena jarang interaksi dengan orang luar. Namun, hati emak belum merasa tenang jika belum ngumpul semua, mengingat kasus di negara lain yang tidak cukup sebentar dalam mengendalikan virus ini.

Drama pun muncul di hari pertama, jadwal yang sudah disusun tak terlaksana. Dua bersaudara yang lama tak jumpa sepertinya lebih memilih melepas rindu setelah lama tak bersua. Kejar-kejaran, lari-larian, bersenda gurau. Semuanya lupa dengan tugas dari sekolah.

Teriakan dan tangisan saling bersahutan. Tak lama kemudian langsung tertawa terbahak berganti dengan tangisan si bayi yang kelaparan. Padahal emak baru mau mulai buka laptop mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.

Si bayi kenyang dan mulai tertidur, dua kakaknya kembali berulah. Rumah sudah jadi kapal pecah dalam sekejap. Allahu Robbi, kepala emak rasanya ikutan pecah saat si bayi kembali ikutan nangis karena merasa tidurnya terganggu.

Akhirnya pekerjaan emak di depan layar bisa tertunaikan tuntas saat kedua anak diisolasi dalam kamar dengan buku tulis, buku paket, dan alat tulis masing-masing. Saatnya belajar dan bekerja bersama. Tak lupa si bayi mah masih tetap nempel layaknya kanguru. Emak sedikit lega karena beberapa pekerjaan kantor bisa terselesaikan tanpa drama.

Sedang seru-serunya ngajar online, trio kepo berkerumum di depan laptop yang sama. Si Tengah yang merasa hafal siapa saja yang ada dalam layar mulai mengabsen, sementara si kakak mulai bertanya ini itu dan si bayi ikutan pencet-pencet keyboard.

Ah, ternyata tak semudah yang dibayangkan saat WFH dan LFH dilakukan bersamaan. Belum lagi saat tiba-tiba mati lampu dan sinyal internet sembunyi entah di mana. Para siswa kehilangan gurunya di kelas. Sedihnya sinyal baru muncul saat kelas sudah usai.

Namun, ada sudut hati yang berkedut saat diskusi dengan para siswa mengenai hikmah adanya wabah Covid-19. Salah satu anak mengatakan hikmahnya jadi lebih bersyukur. Saat saya tanya kenapa lebih bersyukur, jawabannya karena kita masih punya stok makanan sementara orang lain sudah kesulitan, masih bisa WFH sementara banyak yang kehilangan pekerjaan, masih bisa LFH dengan fasilitas internet dan bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi sementara banyak siswa dan guru yang kebingungan untuk belajar mengajar, jangankan pakai internet, banyak siswa yang bahkan tidak memiliki hp atau laptop dan sejenisnya.

Dari situ, saya juga semakin bersyukur. Alhamdulillah rumah semakin ramai dengan suara anak-anak, masih bisa bekerja dengan nyaman, fasilitas internet memadai, bisa berkumpul dengan keluarga di sela-sela aktivitas, bisa berjemur bareng, dan masih banyak kenikmatan lain yang layak disyukuri.

So, nikmatilah setiap keribetan WFH dan LFH. Jika sudah sulit dikendalikan tinggalkan sejenak dan buat aktivitas bersama anak-anak.

Untuk para guru yang melakukan home learning/distance learning atau apa pun istilahnya tetap semangat ya!

Semoga wabah ini segera berlalu agar kita nyaman beribadah di bulan Ramadhan yang akan datang.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh

2 comments