BAHAGIA SEJATI DI IDUL FITRI

Setelah berpuasa satu bulan lamanya di bulan Ramadan, maka umat muslim di seluruh dunia merayakan Idul Fitri. Hari yang sering diumpamakan sebagai hari kemenangan, menang melawan hawa nafsu dan membelenggu sifat buruk.

Umumnya masyarakat Indonesia merayakannya dengan saling berkunjung dan bermaaf-maafan. Kadang diselingi dengan makan ketupat jika yang dikunjungi kerabat yang cukup dekat dan akrab.

Di kampungku, kami saling kunjung dengan tetangga. Biasanya hanya saling bermaafan, lalu lanjut berkunjung lagi ke rumah berikutnya. Kadang disertai obrolan basa basi sebentar.

Banyak yang merasa kembali suci dan terhapus sudah semua dosa-dosanya. Lantas mengapa belum genap sehari sudah banyak yang menambah dosa baru? Terutama dengan menyakiti hati orang lain. Yakin kembali suci?

“Eh, puasa gak nih, kok gendutan (gak kurus-kurus)?”

“Masih kempes saja tuh perut, kapan hamil?”

“Sudah gede nih anaknya, kapan dikasih adik?”

“Mana nih, datang kok sendiri saja? Belum ada yang mau dikenalin?”

“Tambah lagi anaknya, belum ada yang laki/perempuan!”

“Masih naik motor, gantilah mobil. Anakmu sudah besar, repot kalau pakai motor.”

“Hamil lagi? Anak sudah banyak, masih kecil-kecil pula. Gak KB kalian?”

“Masih ngontrak di jalan Mawar? Beli rumah dong, masak bertahun-tahun ngontrak terus!”

“Masih campur sama orang tua? Beli rumahlah! Kapan mandirinya kalian kalau bareng orang tua terus?”

Aaah, banyak sekali ‘nilai normal’ yang harus dipenuhi. Standar yang nilainya fleksibel dan tidak tetap, tergantung dari kacamata si penanya. Membuat kita bingung dan sedih sendiri, jika kita berada di pihak yang ditanya.

Sadarkah kalian, apa yang kalian tanyakan itu menimbulkan luka? Memberikan goresan di hati yang kadang meninggalkan bekas. Apakah sempat luka itu mengering jika di tahun berikutnya kembali kalian lukai?

Yuk, mulai sekarang kita stop rangkaian perlukaan ini. Mulai dari diri kita, sekarang juga. Jangan lupa bahagia ramai-ramai ya?

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie