Bagaimana Menjadi Seorang Pemimpin yang Baik?








Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik?

Kali ini, aku hendak membahas mengenai pemimpin dan kepemimpinan yang kusadur dari berbagai sumber. Antara lain dari mata perkuliahan Ilmu Kepemimpinan yang sedang kupelajari (supaya lebih ngelotok belajarnya, hehe) juga sedikit kuambil dari pelatihan ESQ yang pernah kujalani. Tahu kan, Emotional Spiritual Quotient, suatu event pemberdayaan Sumber Daya Manusia yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian?

Tapi, langsung saja kumulai dari penjelasan tentang apa itu pemimpin.

Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk memengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.

Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan memengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.

Dalam kepemimpinan, berkembang bersamaan dengan perkembangan ilmu manajemen ilmiah, yang dipelopori oleh Frederick W. Taylor pada awal abad ke-20, yang kemudian hari berkembang menjadi ilmu kepemimpinan (Kartono, 2010).

Ada empat unsur pokok kepemimpinan:

1. Pemimpin.
Unsur pertama dari kepemimpinan tentunya adalah pemimpin itu sendiri.

2. Bawahan.
Unsur kedua yaitu bawahan, artinya sekelompok orang yang bersedia melakukan berbagai aktivitas untuk tujuan yang sudah ditetapkan.

3. Tujuan.
Biasanya adanya kepemimpinan timbul dalam rangka mencapai satu tujuan bersama.

4. Organisasi.
Unsur terakhir adalah adanya sebuah wadah di mana di dalamnya termasuk situasi dan kondisi tertentu.

Kemudian, terdapat tiga kategori kepemimpinan:

1. Tipe kepemimpinan otoriter
Tipe kepemimpinan ini menekankan pemimpin sebagai penguasa tunggal. Kedudukan anak buah semata-mata sebagai pelaksana keputusan.

2. Tipe kepemimpinan kendali bebas (Laizzes Faire)
Tipe kepemimpinan yang merupakan kebalikan dari poin pertama, yaitu kepemimpinan yang dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin. Sementara itu, pemimpin hanya berkedudukan sebagai simbol.

3. Tipe kepemimpinan demokratis.
Tipe kepemimpinan yang menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting. Sehingga pemimpin selalu berusaha mementingkan musyawarah yang diwujudkan pada setiap jenjang dan di dalam unit masing-masing.

Kartini Kartono yang dikutip oleh Burharudin dan Umiarso mengemukakan bahwa ditinjau dari sejarah perkembangannya, terdapat tiga teori kepemimpinan, yaitu:

1. Teori genetis (keturunan)
Para penganut teori ini menengahkan bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan.

2. Teori sosial
Inti dari teori ini adalah “leader are made and not born“. Jadi teori ini kebalikan dari teori pertama, artinya setiap orang bisa menjadi seorang pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman cukup.

3. Teori ekologis
Inti dari teori ini menekankan bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik jika ia telah memiliki bakat kepemimpinan, kemudian bakat itu dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman. Teori ini menghubungkan segi positif dari kedua teori di atas.

Fungsi kepemimpinan, sebagaimana diungkapkan Imam Wahyudi, yaitu:
1. Fungsi intruksional
2. Fungsi konsultasi
3. Fungsi partisipatif
4. Fungsi delegasi
5. Fungsi pengendalian

Fungi kepemimpinan ini dapat berjalan dengan adanya komunikasi.
Seorang pemimpin yang baik layaknya mampu melakukan komunikasi efektif. Karena berdasarkan penelitian, waktu seorang pemimpin berkisar 75-90% dihabiskan untuk berkomunikasi, baik secara internal maupun eksternal.

Di dalam Islam sendiri, telah dikenal konsep kepemimpinan yang bisa disebut juga imam. Istilah kepemimpinan telah ada sejak zaman Nabi Adam as, yang mengungkapkan bahwa “manusia adalah khalifah”.

Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah swt. Sekurang-kurangnya seorang pemimpin yang baik harus memiliki 4 sifat yaitu: siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercaya) dan fatonah (pandai).

Sementara itu, dari pelatihan ESQ yang pernah kujalani, ada ilmu lain tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Yaitu, cukup dengan mendengarkan suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna.

Contoh: seorang pemimpin harus jujur, bisa dicerminkan dari Asmaul Husna yaitu Al-Mukmin (Maha Pemberi Rasa Aman).

Contoh lainnya adalah seorang pemimpin harus visioner atau berpandangan ke depan. Hal ini sudah dicontohkan dalam Asmaul Husna yaitu Al-Akhir (Yang Maha Akhir).

Silakan cari contoh lainnya, dengan bersumber pada keseluruhan 99 Asmaul Husna ya.

Menariknya lagi, ilmu kepemimpinan ini baru dipelajari di hari kedua.
Di hari pertama, hal yang kami pelajari adalah mengenali suara hati, memahami belenggu apa yang menghalangi terdengarnya suara hati, juga mempelajari bagaimana bersikap ikhlas. Yaitu dengan memahami siapa diri kita sebenarnya, yang ternyata hanyalah seorang hamba-Nya dan segala tindak-tanduk kita di muka bumi diawasi langsung oleh-Nya.

Artinya seorang pemimpin harus lebih dulu mengenali dirinya sendiri sebelum ia mulai memimpin orang lain. Seorang pemimpin harus menguatkan lebih dulu pondasi dalam dirinya. Kembali pada visi misi yang tidak bertentangan dengan visi misi seorang hamba Allah swt.

Jangan lupa juga, bukankah tiap kita adalah pemimpin? Setidaknya pemimpin bagi diri sendiri.

***

Sumber:
1. Makalah yang merupakan tugasku dalam mata kuliah “Kepemimpinan dan Cara Berpikir Sistem Kesehatan Masyarakat” dalam Program Studi Kesehatan Masyarakat di Universitas Mitra Indonesia.

2. Pelatihan In-house Training Basic ESQ Mahasiswa yang diadakan Universitas Mitra Indonesia pada tanggal 26-27 September 2019 lalu.






rumahmediagrup/emmyherlina