Bagaimana dengan Allah yang Menguasai Kita Setiap Saat

Bagaimana dengan Allah yang Menguasai Kita Setiap Saat

Sebaris kalimat yang terus menerus didendangkan oleh Abdullah bin Umar r.a dalam dirinya.

Kalimat yang membuat hatinya tenang dan senang. Kalimat yang berasal dari seorang penggembala kambing.

Bagaimana bisa seorang penggembala kambing mampu membuat hati seorang Abdullah bin Umar r.a terkesan?

Maka, Nafi’ r.a menceritakan kisahnya;


Suatu ketika Abdullah bin Umar r.a bepergian ke luar kota Madinah bersama para pelayannya. Di perjalanan, mereka singgah untuk mengisi perut yang telah lapar.

Setelah menghamparkan alas, makanan disajikan dengan baik oleh para pelayan. Mereka pun akhirnya duduk, berdoa kemudian menyantap makanan tersebut penuh nikmat dan syukur.

Kala itu, seorang penggembala kambing melewati mereka seraya mengucapkan salam.

Mendapati hal tersebut, Abdullah bin Umar r.a pun menawarkan makan kepada penggembala itu.

“Wahai, Penggembala! Duduklah sebentar dan makanlah bersama kami,” ajak Abdullah bin Umar r.a.

“Terimakasih. Sesungguhnya hari ini aku puasa wahai Tuan,” tolak penggembala itu dengan santun.

“Puasa?” tanya Abdullah bin Umar r.a tak percaya. “Mengapa di tengah terik yang sangat menyengat ini kau berpuasa, apa kau tak lelah?”

“Tidak,  Tuan. Sesungguhnya aku ingin mendapat pahala dari hari-hariku yang telah lalu.”

Mendengar itu, Abdullah bin Umar r.a masih belum percaya akan keteguhan hati penggembala tersebut. Maka, ia pun kembali menguji pemuda itu.

“Aku ingin membeli satu kambing yang kau bawa. Lalu dagingnya akan dimasak dan kau kuberi bagian untuk dibawa pulang,” uji Abdullah bin Umar r.a.

Namun,  apa kata penggembala kambing?

“Tidak bisa, Tuan. Kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik tuanku.”

“Bukankah Tuanmu tidak akan tahu jika kau jual seekor kepadaku. Katakan saja bahwa kambing itu telah hilang atau dimakan serigala.”

“Tidak bisa, Tuan.”

“Kenapa?”

“Bagaimana dengan Allah yang selalu mengawasiku, Tuan, beserta semua makhluk di dunia ini?”

Abdullah bin Umar r.a tersenyum puas dan bahagia mendengar jawaban penggembala. Ia pun mengazamkan dalam dirinya kalimat tersebut.

Sungguh tak ada siapa pun yang luput dari penglihatan-Nya. Dia Maha Mengetahui apa yang nyata dan tersembunyi, meski di dasar samudera, di dalam inti bumi atau di lapisan langit.

Semua nyata terpampang di hadapan Allah tanpa kecuali. Lantas bagaimana kita bisa kehilangan sikap jujur? Sedang alam semesta dan isinya di bawah kuasa-Nya, tanpa batas dan jeda.

nubarnulisbareng/walidahariyani