Badai Debu di Kampung Rambut

Oleh: Bunda Denok

Malam itu begitu suram. Angin mulai berhembus. Tercium aroma yang sangat menyesakkan. Aroma yang sangat busuk.

Ardian masih tak sadarkan diri. Tubuhnya lemah. Rupanya aroma yang tercium olehnya adalah racun pelemah paru-paru.

Oksigen semakin menipis. Tiba-tiba mata terbuka. Dengan lemah katub-katub mata terbuka dan sesekali terpejam kembali. Napas masih terengah-engah. Akibat bau yang luar biasa.

Dibukanya lagi matanya, kali ini dengan sangat lebar. Dilihatnya sekeliling. Sepi tak ada siapapun. Rambut-rambut yang tumbuh, biasanya terlihat tebal kini pun tak nampak. Hanya beberapa helai yang tersisa. Rupanya badai debu nan berbau itu telah meluluh lantakkan kampung Rambut.

“Ibu …” teriakan pertama Ardian setelah tersadar dari pingsannya.

“Ibu … Ayah … Kakak …” teriaknya kembali dengan suara yang lebih keras.

Tapi tetap tak ada jawaban. Tak ada seorang pun yang terlihat.

Ardian berlari ke sana ke mari, mencari siapapun yang bisa ditemuinya. Namun tak ada. Hatinya semakin gelisah. Ia hanya sendirian seorang diri. Tetesan air mata semakin deras membasahi pipinya. Dan semakin deras.

“Ibu, maafkan aku. Huhuhuhu Ibuuu. Ibu kemana? Ibuuu,” tangisan itu semakin lama semakin lirih.

Tak ada teriakan. Padangan matanya kosong. Hanya air mata yang terus mengalir.

Nasehat terakhir yang disampaikan Ibu pada Ardian adalah supaya Ardian menyiram lahan tanaman Rambut. Karena teriknya matahari lahan-lahan menjadi kering. Dan nasihat itu tak dilaksanakan karena rasa malas.

Kini tinggal penyesalan yang dirasakan Ardian. Hanya wajah Ibu yang terbayang di pelupuk matanya. Senyum ibu lembutnya kasih sayang ibu.

Matanya kembali terpejam, dihelanya napas dalam-dalam. Tiba-tiba ada yang mengecup keningnya. Kecupan yang tak asing dirasakan. Matanya segera dibukanya. Alangkah terkejutnya dan senangnya Ardian.

“Ibu …” Ardian segera memeluk ibunya dengan erat.

“Hei ada apa? Sudah hampir siang, ayo segera bangun dan mandi,” tanya Ibu keheranan.

Rupanya kejadian tadi itu adalah mimpi.

“Iya Ibu, Ardian segera mandi. Hari ini Ardian juga mau keramas. Supaya rambut bersih, sehat, dan harum,” jawab Ardian dengan senyum percaya diri.

Hmmm aku tak akan biarkan rambutku habis, rontok karena ketombe. Gumamnya dalam hati.

Malang, 23 April 2020