ASYIKNYA DI SUNAT

“Mikum”

“Eiiiittt, kok salamnya begitu?”

“Aku gak mau ke masjid lagi!” Nejad nyelonong masuk rumah, menjatuhkan tubuhnya di kursi tamu.

“Lho kenapa?” aku mendekat. Nejad melipat mukanya.

“Bun, aku mau disunat, besok!”
Aku terperanjat seakan tak percaya mendengar apa yang dikatakannya. Bahagia dan rasa tak percaya. Selama ini Nejad paling tidak suka kalau saudara atau siapa saja menanyakan kapan dia di sunat. Memang umurnya masih 5 tahun. Tapi untuk ukuran di daerah ku, itu termasuk sudah telat. Karena biasanya umur 2 sampai 4 tahun sudah disunat. Bahkan ada yang baru 40 hari lahir sudah disunat. 

“Yakin mau disunat? Kok tiba-tiba?”

“Ya. Aku mau sholat di masjid Bun. Kata Pak Harun kalau belum disunat gak boleh ke masjid.”

Pak Harun adalah salah satu yang di tuakan di daerah kami. Walau aku tidak setuju dengan larangannya terhadap anak kecil yang suka ke masjid. Menurutku anak justru dari sejak kecil anak harus mulai dikenalkan dan dibiasakan sholat di masjid. Terlebih anak laki-laki. Tapi aku ambil positifnya saja sekarang Nejad mau di sunat.

Sesuai permintaanya kami hanya mengadakan selamatan dalam keluarga saja. Namun karena banyak yang datang mengucapkan selamat dan mendoakan, akhirnya ku buat syukuran alakadarnya di rumah.

“Bun, nanti Nejad mau disunat lagi”

“Hah!!” hampir saja piring yang ku pegang jatuh, saking kagetnya.

‘Kenapa mau disunat lagi? Gak sakit?” tanyaku berusaha memahami pikirannya.

“Ternyata disunat itu asyik dan menyenangkan. Tidak sakit. Banyak uang, banyak makanan dan banyak mainan!”

“hhhmmmm.” Dasar anak kecil.