Assalamualaikum Hijab

Assalamualaikum Hijab

“Suatu saat aku mau pakai hijab karena diriku yang memang menginginkannya,” ucapku pada calon suamiku, dimana aku sedang merasakan angin segar menghempas rambut panjangku yang wangi terurai.

Sebenarnya aku tak pandai mengikat rambut dengan rapi, aku pun sering membiarkannya tanpa sisir sejak berangkat ke sekolah hingga kembali ke rumah. Masih bisa dihitung dengan jari, berapa banyak kala itu teman-teman yang berhijab. Kami pun merasa biasa saja. Justru pakaian sekolah model junkis dan rok pendek menjadi tren, yang berusaha meloloskan diri dari larangan peraturan sekolah. Untungnya pada bagian ini aku tidak terlibat, rok masih di bawah lutut dengan baju sekolah standart dari toko seragam.

Dilema untuk menutup aurat sering merayap dalam benak. Bukan karena aku sering bergaul dengan beberapa teman wanita berhijab yang sedikit tadi, namun ajaran agama yang sering aku pahami mengenai batas aurat yang membuat hatiku bergetar.

Saat masa puber pun, aku sempat tergoda dengan penampilan ‘aduhai’ teman-teman wanita yang bisa berjalan dengan bebas dengan belahan baju rendah dibagian dada dan rok mini. Bagaimana denganku?

Aku ikut mengenakannya, namun hanya di rumah. Ternyata aku pemalu *untung aku berpikir demikian ya. Hingga pada suatu waktu pesan Mama membuka pikiranku, “semua wanita itu diciptakan Allah dengan bentuk badan yang indah, tidak hanya kamu saja, tapi sebaik-baiknya wanita adalah yang mampu menjaga pemberian Allah dengan sebaik-baiknya.” MasyaAllah. Tekadku naik level.

Ternyata rintanganku naik dua kali lipat. Di masa kerja, aku mulai banyak belajar dan telaten untuk menata rambut bahkan bermake up. Bahkan dituntut untuk selalu tampil rupawan. Hanya satu dua orang saja wanita berhijab. Hingga desas-desus menggelitik telingaku: yang penting sikapnya sopan, tutur katanya lembut, jadi tidak menjamin orang berhijab itu baik. Loh, loh, loh … aku pun mencari-cari apa yang bisa menguatkanku kembali.

Sehingga saat aku berada pada titik, dimana aku berada di tengah lapang. Kami melaksanakan salat Idul Adha dengan banyaknya jamaah wanita bermukena putih. Aku menjalankan salat berdampingan dengan mertuaku di desa beliau. Hempasan angin segar itu tidak lagi menguraikan rambutku.

Aku berada diantara jiwa-jiwa bersih dan putih, aku tidak mengenal siapapun disana. Situasi ini sudah sering aku rasakan bertahun-tahun. Namun, satu hal yang membuat hari itu berbeda, suara Bapakku melantunkan ayat-ayat Al Qur’an menjadi Imam salat kami. Suara merdunya memecah kesunyian. Air mataku mengalir tanpa henti. Aku semakin sadar, bahwa suara itu bukanlah suara Bapakku. Jelas-jelas, Bapakku melaksanakan salat di rumah dengan Mama dan saudara-saudaraku.

Jeritan hati ini semakin menguat. Alasan untuk mengenakan hijab kini, karena kuingin menjadi ladang pahala dan syurga untuk beliau. Kapan lagi aku bisa menjadi anak berbakti?

Bukankah doa ‘anak salehah’ yang diterima Allah untuk orangtuanya? InsyaAllah aku akan berusaha menjadi anak salehah untuk diijabah-Nya doaku kepada Bapak dan Mamaku.

Dan suamiku semakin menyempurnakan keyakinanku saat itu, “Alhamdulillah, istriku berjilbab. Mas bangga, hanya mas yang bisa melihat kecantikan adik secara ‘utuh’ dan mas jadi berbeda dibanding lelaki lain.”

Aku membuatnya merasa spesial, dan aku menjadi lebih spesial untuknya.

Seiring berjalannya waktu aku semakin memahami bahwa menutup aurat itu adalah kewajiban setiap muslimah. Menutup aurat bukan alat ukur ibadah atau perilaku seseorang. Kembali lagi pada bagaimana seseorang itu mampu mengaplikasikan ilmu agamanya pada kesehariannya.

Agama Islam mengajarkan kebaikan dalam kewajibannya. Mungkin … banyak hal yang tidak kita ketahui manfaatnya, tapi banyak hikmah dari setiap kewajibannya.

Sejak mengenakan jilbab, aku lebih leluasa untuk bergaul secara profesional, melindungi wajah dan badan dari terik dan dingin, melindungi dari tatapan mata asing yang ingin menggoda. Setidaknya yang sebelumnya aku sering menemui penggoda berkata, “hai cantik, hai manis,” sekarang mereka berucap “assalamualaikum” yang artinya Semoga Allah Melimpahkan Keselamatan dan Rahmat-Nya untukmu.

Amin yarobbal alamin.

Sahabat, bisa pakai hijab bagaimana ceritanya?
Sharing di kolom komentar ya😘

Salam,

Dewi Adikara.

#GerakanWorldHijabDay

Rumahmediagrup/DewiAdikara

4 comments